Breaking News
light_mode

Tumbilotohe

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: Dr. Kaswad Sartono
Kakanwil Kemenag Prov. Gorontalo

Malam ke-27 Ramadhan 1447 H bagi saya adalah malam yang sangat istimewa. Malam itu saya berkesempatan menghadiri sekaligus menyaksikan puncak Festival Tumbilotohe Hulonthalo Mulolo tingkat Provinsi Gorontalo tahun 2026/1447 yang dipusatkan di kawasan Blok Plan Perkantoran Provinsi Gorontalo.

Di tengah gemerlap ribuan cahaya lampu yang menyala serentak, saya kagum dan tertarik karena tradisi ini secara substansial bukan sekadar perayaan budaya, tetapi sebuah peristiwa “tajalli”, proses spiritual, sosial, dan peradaban.

Ketertarikan itulah, saya perlu mengabadikan momen ini, baik dalam pikiran dan memori, juga dalam tulisan dan rekam digital.

Secara bahasa, Tumbilotohe berarti “menyalakan lampu”, sebuah ungkapan sederhana yang menyimpan filosofi mendalam: menerangi kehidupan. Cahaya itu bukan hanya cahaya fisik yang menerangi malam, tetapi juga simbol cahaya iman, ilmu, kebersamaan, dan harapan.

Dalam sambutannya, Gubernur Gorontalo, Dr. Ir. H. Gusnar Ismail mengurai sejarah dan makna Tumbilotohe dari perspektif budaya dan keagamaan. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi harmonis antara budaya lokal Gorontalo dan syariat Islam. Ia lahir dari interaksi panjang antara nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Hulonthalo dengan ajaran Islam yang masuk dan berkembang di wilayah ini sejak berabad-abad lalu.

Cahaya Tradisi dalam Sejarah Islam Gorontalo

Secara historis, Tumbilotohe telah menjadi bagian dari kehidupan religius masyarakat Gorontalo sejak awal penyebaran Islam di daerah ini, tahun 1525. Pada masa itu, lampu-lampu dinyalakan sebagai tanda bahwa suatu keluarga telah menunaikan zakat fitrah menjelang Idul Fitri. Dalam versi lain, lampu-lampu tersebut juga berfungsi sebagai penerang jalan menuju masjid agar masyarakat dapat melaksanakan shalat tarawih dan ibadah malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil yang diyakini sebagai waktu turunnya kemuliaan Lailatul Qadar.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai ibadah bukan hanya sebagai hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga sebagai praktik sosial yang membangun gotong royong, solidaritas dan kesadaran kolektif.

Transformasi Tradisi: Dari Damar ke Cahaya Modern

Seiring perjalanan waktu, Tumbilotohe mengalami transformasi namun tanpa kehilangan ruh tradisionalnya. Dahulu, lampu yang digunakan adalah tohetutu yakni lampu damar sederhana yang dibuat dari getah pohon, beralih menggunakan botol bekas dengan bahan bakar minyak tanah. Kini, lampu-lampu itu dimodifikasi dengan teknologi listrik sehingga tampil lebih meriah, aman, dan artistik.

Namun demikian, esensi tradisi tetap dipertahankan. Pada puncak festival tahun ini, sekitar 7.500 lampu tradisional tetap dinyalakan di area festival dan di rumah-rumah penduduk. Pemandangan ini menghadirkan lanskap cahaya yang sangat khas, menjadikan Gorontalo seakan berubah menjadi lautan cahaya spiritual.

Tradisi ini bukan sekadar perayaan visual, tetapi simbol keberlanjutan budaya yang tetap hidup dalam arus modernitas.

Perspektif Moderasi Beragama

Dalam perspektif Kementerian Agama, tradisi Tumbilotohe memiliki titik temu yang sangat kuat dengan nilai moderasi beragama, sebagaimana sekaten di Jogjakarta, Tabuik di Pariaman, dan Maudu Lompoa di Cikoang Takalar Sulsel.

Moderasi beragama mengajarkan bahwa keberagamaan tidak harus memutus akar budaya, tetapi justru dapat tumbuh bersama kearifan lokal.

Tumbilotohe menunjukkan bagaimana agama dan budaya dapat bersinergi dan penyesuaian secara konstruktif. Nilai-nilai Islam seperti zakat, ibadah malam, dan solidaritas sosial diterjemahkan ke dalam simbol budaya yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Dalam kerangka moderasi beragama, tradisi ini mengandung beberapa nilai penting:

  1. Akomodasi terhadap budaya lokal
    Islam hadir bukan untuk meniadakan budaya, tetapi menyempurnakannya.
  2. Penguatan harmoni sosial
    Festival ini melibatkan seluruh masyarakat tanpa sekat sosial.
  3. Simbol kedamaian dan kebersamaan
    Cahaya lampu menjadi metafora bagi kehidupan yang terang, damai, dan penuh harapan.
  4. Religiusitas yang inklusif
    Tradisi ini tidak memunculkan eksklusivisme, tetapi justru memperkuat identitas kolektif masyarakat.

Perspektif Sosiokultural

Dari sudut pandang sosiologi budaya, Tumbilotohe adalah ritual kolektif yang memperkuat identitas masyarakat Gorontalo. Ia berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk mempererat solidaritas, menjaga kontinuitas nilai tradisi, dan meneguhkan identitas kultural di tengah arus globalisasi.

Ritual cahaya ini juga memiliki kekuatan simbolik bahwa masyarakat Gorontalo adalah masyarakat yang menghargai spiritualitas, kebersamaan, dan keindahan tradisi.

Perspektif Ekonomi dan Pariwisata

Dari sisi ekonomi, festival ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi dan budaya. Pemandangan ribuan lampu yang menyala serentak memiliki daya tarik visual yang kuat dan unik, bahkan berpotensi menjadi ikon nasional maupun internasional. Tergantung bagaimana tradisi malam hari ini dikelola secara profesional dan kolaboratif?

Jika dikembangkan secara terencana, Tumbilotohe dapat memberikan dampak ekonomi dan kesejahteraan yang signifikan melalui:

• peningkatan kunjungan wisatawan,
• pengembangan ekonomi kreatif,
• pemberdayaan UMKM lokal,
• serta penguatan citra Gorontalo sebagai daerah yang kaya tradisi spiritual.

Dengan pendekatan yang tepat, tradisi ini dapat menjadi bagian dari religious-cultural tourism yang memperkuat ekonomi sekaligus menjaga nilai-nilai kearifan budaya.

Cahaya Peradaban Gorontalo

Sebagai insan Kementerian Agama yang untuk pertama kalinya menyaksikan secara langsung festival ini, saya kagum dan merasakan bahwa Tumbilotohe bukan sekadar tradisi lokal. Ia adalah simbol peradaban. Pertemuan antara iman, budaya, dan kemajuan zaman.

Di tengah cahaya lampu yang menyala di seluruh penjuru provinsi, saya melihat pesan yang sangat kuat: bahwa masyarakat Gorontalo ingin terus menjaga terang kehidupan, menerangi jalan spiritualitas, sekaligus membangun masa depan yang lebih baik sesuai spirit Q.S al-Tahrim ayat 8.

Tradisi ini layak untuk terus dirawat, dikembangkan, dan dipromosikan sebagai ikon budaya dan spiritual Gorontalo menuju masa depan yang lebih bercahaya.

Sebuah tradisi yang tidak hanya menyalakan lampu, tetapi juga menyalakan hati, pikiran, kesadaran, dan peradaban.
Selamat & Sukses Festival Tumbilotohe Hulonthalo Mulolo 2026 M./1447 H.

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Surabaya, Nasaruddin Umar Perkuat Narasi Persatuan dan Kepemimpinan Umat

    Dari Surabaya, Nasaruddin Umar Perkuat Narasi Persatuan dan Kepemimpinan Umat

    • 0Komentar

    LMenteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan representasi terbaik wajah Islam Indonesia yang moderat, nasionalis, dan penuh semangat persaudaraan. Karena itu, provinsi ini layak menjadi laboratorium kerukunan untuk dunia dalam rangkaian kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8). Kegiatan […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Serahkan Dana Sosial, Wujud Empati dan Solidaritas kepada Keluarga Pegawai yang Berduka

    Kanwil Kemenkum Babel Serahkan Dana Sosial, Wujud Empati dan Solidaritas kepada Keluarga Pegawai yang Berduka

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan kepedulian dan solidaritas kepada keluarga pegawai yang sedang berduka melalui pemberian dana sosial atas meninggalnya Bapak H. Mundasir Bin Syawal, ayahanda dari Iswandi, Penelaah Teknis Kebijakan pada Kantor Wilayah Kemenkum, pada Kamis (02/04/2026). Penyerahan bantuan dilaksanakan di halaman Kantor Wilayah Kemenkum dan diserahkan secara langsung oleh Kepala […]

  • Kemenkum Sumsel Fasilitasi Penyusunan Dua Raperda Inisiatif DPRD OKU Selatan

    Kemenkum Sumsel Fasilitasi Penyusunan Dua Raperda Inisiatif DPRD OKU Selatan

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan melalui Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum menggelar rapat pendahuluan penyusunan Naskah Akademik dan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Inisiatif DPRD Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Tahun 2026 bertempat di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan. Rapat membahas dua Raperda, yakni tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dan Perubahan atas […]

  • Penuhi Persyaratan Administratif, Partai Gerakan Rakyat Terima SKT dari Kanwil Kemenkum Sumsel

    Penuhi Persyaratan Administratif, Partai Gerakan Rakyat Terima SKT dari Kanwil Kemenkum Sumsel

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan menyerahkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) kepada Partai Gerakan Rakyat (PGR) Provinsi Sumatera Selatan setelah partai tersebut dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi hasil verifikasi kepengurusan. Kegiatan berlangsung di Aula Musi Lantai 3 Kantor Wilayah Kemenkum Sumsel (7/7). Sebelum penyerahan SKT, Kepala Bidang Pelayanan AHU, Gunawan bersama tim verifikator melaksanakan verifikasi ketiga […]

  • Menkum Luncurkan Etalase Produk Indikasi Geografis di E-commerce

    Menkum Luncurkan Etalase Produk Indikasi Geografis di E-commerce

    • 0Komentar

    Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas resmi meluncurkan Etalase Produk Indikasi Geografis Indonesia di Aplikasi Tokopedia dan TikTok Shop pada Kamis, 2 Juli 2026 di Graha Pengayoman Jakarta. Etalase hasil kolaborasi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dengan Tokopedia dan TikTok Shop tersebut menjadi upaya memperluas pemasaran produk Indikasi Geografis sekaligus meningkatkan nilai ekonominya melalui platform digital. […]

  • Talenta Perempuan dan Semangat Pengabdian  dari PONTREN MODERN IMMIM PUTRI: Jejak Prof. Muzdalifah dan Hj. Munjiyah Mayangsari

    Talenta Perempuan dan Semangat Pengabdian  dari PONTREN MODERN IMMIM PUTRI: Jejak Prof. Muzdalifah dan Hj. Munjiyah Mayangsari

    • 0Komentar

    Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Setiap pesantren sejatinya menanam benih harapan. Namun, hanya sedikit yang mampu membuktikan bahwa benih itu tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak orang. Ukuran keberhasilan sebuah pesantren bukanlah semata jumlah santri yang lulus, melainkan sejauh mana alumninya mampu menghadirkan manfaat, memimpin dengan integritas, dan tetap teguh menjaga nilai-nilai […]

expand_less