Talenta Perempuan dan Semangat Pengabdian dari PONTREN MODERN IMMIM PUTRI: Jejak Prof. Muzdalifah dan Hj. Munjiyah Mayangsari
- account_circle Maryam Chalisa
- calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
- print Cetak

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Setiap pesantren sejatinya menanam benih harapan. Namun, hanya sedikit yang mampu membuktikan bahwa benih itu tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak orang. Ukuran keberhasilan sebuah pesantren bukanlah semata jumlah santri yang lulus, melainkan sejauh mana alumninya mampu menghadirkan manfaat, memimpin dengan integritas, dan tetap teguh menjaga nilai-nilai yang diwariskan almamaternya.
Pesantren Modern IMMIM Puteri Minasate’ne, Pangkep Sulawesi Selatan, kembali memperlihatkan buah dari proses pendidikan yang panjang itu. Dari rahim pesantren ini lahir perempuan-perempuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang dalam kepemimpinan dan kokoh dalam pengabdian. Di antara mereka, tampil dua sosok yang layak menjadi inspirasi: Prof. Dr. Muzdalifah Muhammadun, M.Ag., yang kini mengemban amanah sebagai Direktur Pendidikan Pesantren Modern IMMIM Puteri, dan Hj. Munjiyah Mayangsari, yang dipercaya memimpin sebagai Ketua Yayasan YASDIC Cabang Pangkep.
Keduanya merupakan alumni angkatan 1990 Pesantren Modern IMMIM Puteri. Mereka tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang sama, ditempa oleh guru-guru yang sama, dibesarkan oleh tradisi pesantren yang sama, lalu melangkah di jalan pengabdian yang berbeda. Namun, keduanya dipertemukan oleh satu kesamaan: menjadikan ilmu sebagai amanah dan kepemimpinan sebagai ladang ibadah.
Kisah mereka bukan sekadar cerita tentang keberhasilan dua perempuan. Ini adalah narasi tentang keberhasilan sebuah sistem pendidikan yang mampu menyiapkan kader-kader perempuan muslimah untuk mengambil peran strategis di tengah masyarakat. Pesantren telah membuktikan bahwa perempuan tidak hanya dipersiapkan menjadi pribadi yang salehah dalam ruang domestik, tetapi juga menjadi pemimpin yang mampu memberi arah, menginspirasi, dan menghadirkan perubahan.
Pelantikan Prof. Dr. Muzdalifah Muhammadun sebagai Direktur Pendidikan bukanlah akhir dari perjalanan akademiknya, melainkan awal dari amanah yang lebih besar. Sebagai guru besar sekaligus pemimpin pendidikan, ia memikul tanggung jawab untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang dahulu membentuk dirinya tetap hidup dalam setiap proses pembelajaran di pesantren. Ia kini bukan hanya mendidik santri, tetapi juga sedang menyiapkan generasi muslimah yang akan memimpin Indonesia di masa depan.
Di sisi lain, Hj. Munjiyah Mayangsari melalui kepemimpinannya di Yayasan YASDIC Cabang Pangkep menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu berada di ruang akademik. Kepemimpinan sosial yang dijalankannya menjadi bukti bahwa perempuan alumni pesantren mampu hadir di tengah masyarakat sebagai penggerak, penghubung, sekaligus pemberdaya. Kepemimpinan yang ia bangun bertumpu pada keikhlasan, kerja kolaboratif, dan semangat melayani.
Duet dua perempuan ini menyampaikan pesan penting bahwa talenta tidak pernah lahir secara instan. Talenta adalah hasil dari proses panjang yang memadukan disiplin, pembiasaan, keteladanan, dan pendidikan karakter. Pesantren tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi pintar, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang dapat dipercaya ketika amanah datang menghampiri.
Inilah kekuatan utama Pesantren Modern IMMIM Puteri. Pendidikan yang dibangun tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya. Santri dibimbing untuk menjadi muslimah yang beriman dan berakhlak Qur’ani, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, mampu mengembangkan bakat dan kreativitas, memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan, serta menjadikan seluruh potensi dirinya sebagai jalan pengabdian kepada umat, bangsa, dan peradaban.
Konsep pendidikan seperti inilah yang melahirkan perempuan-perempuan yang mampu berjalan seiring dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Mereka mampu berdiri di ruang publik dengan kompetensi yang tinggi, namun tetap menjadikan adab sebagai mahkota dan nilai-nilai Islam sebagai kompas kehidupan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak perempuan seperti Prof. Dr. Muzdalifah Muhammadun dan Hj. Munjiyah Mayangsari. Perempuan yang membuktikan bahwa kecerdasan tidak harus menjauh dari spiritualitas, bahwa kepemimpinan tidak identik dengan kekuasaan, melainkan dengan keteladanan, dan bahwa kesuksesan sejati adalah kemampuan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Sesungguhnya, keberhasilan dua tokoh ini juga merupakan keberhasilan para guru yang dengan sabar mendidik, para orang tua yang penuh keikhlasan mendoakan, dan sebuah pesantren yang konsisten menjaga tradisi keilmuan sekaligus merespons tantangan zaman. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana, dari lantunan ayat-ayat suci yang dibaca setiap hari, dari disiplin kehidupan santri yang terus dipelihara, lahirlah perempuan-perempuan yang hari ini dipercaya memimpin.
Pesantren Modern IMMIM Puteri telah membuktikan bahwa ketika pendidikan dibangun di atas fondasi iman, ilmu, adab, dan pengabdian, maka yang lahir bukan hanya lulusan, tetapi pemimpin. Bukan hanya perempuan yang sukses secara pribadi, tetapi perempuan yang mampu menggerakkan masyarakat dan menyalakan cahaya peradaban.
Semoga duet talenta perempuan alumni angkatan 1990 ini menjadi inspirasi bagi generasi muslimah berikutnya: bahwa tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi bagi perempuan yang berilmu, tidak ada pengabdian yang terlalu besar bagi perempuan yang beriman, dan tidak ada batas bagi perempuan yang ditempa oleh pendidikan pesantren yang unggul.
“Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.”
- Penulis: Maryam Chalisa

