Breaking News
light_mode

Generasi Scroll: Ketika Ilmu Diangkat dan Anak Muda Diuji

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Muhammad Zuhri Abu Nawas
Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Palopo

Bayangkan seorang pelajar SMA yang baru bangun tidur, lalu meraih ponselnya. Dalam waktu sepuluh menit, ia telah menyaksikan puluhan video pendek: tips belajar, ceramah singkat, gosip selebritas, hingga klaim kesehatan yang terdengar meyakinkan.

Ia bukan sedang bermalas-malasan. Ia hidup di tengah dunia dengan arus informasi nyaris tanpa batas—dan justru itulah tantangan terbesarnya. Generasi muda hari ini merupakan generasi yang paling terhubung, tetapi sekaligus paling rentan tersesat dalam belantara informasi.

Lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa di antara tanda semakin dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan. Peringatan ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik.

Hadis lain menjelaskan bagaimana ilmu itu diangkat. Ilmu tidak dicabut sekaligus dari dada manusia, melainkan dengan wafatnya para ulama. Ketika tidak ada lagi orang berilmu yang dijadikan rujukan, masyarakat mengangkat orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan memadai sebagai pemimpin dan tempat bertanya. Mereka kemudian memberikan fatwa tanpa ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.

Bagi anak muda, pesan ini terasa sangat dekat: siapa yang kita ikuti akan menentukan apa yang kita yakini.

Ketika yang Viral Mengalahkan yang Benar

Realitas digital memperkuat kekhawatiran tersebut. Studi para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2018 menemukan bahwa kabar bohong menyebar lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang dibandingkan kabar benar di Twitter.

Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Karena itu, konten yang memancing emosi kerap lebih mudah diangkat dibandingkan informasi yang paling akurat.

Situasi tersebut semakin rumit dengan adanya efek Dunning-Kruger, yaitu kecenderungan seseorang yang memiliki pengetahuan terbatas untuk menilai kemampuan dirinya terlalu tinggi. Seseorang yang baru menyaksikan tiga video bisa merasa telah menjadi pakar. Di sinilah kebodohan tidak lagi tampak sebagai kebodohan, tetapi hadir dengan penuh percaya diri dan menjadi viral.

Hadis tersebut menggunakan ungkapan wa yatsbuta al-jahlu, yakni kebodohan yang menetap dan dianggap wajar. Persoalannya bukan semata-mata buta huruf. Generasi muda saat ini mungkin menjadi generasi yang paling melek huruf dan teknologi, tetapi informasi belum tentu merupakan ilmu.

Informasi adalah bahan mentah. Sementara itu, ilmu merupakan informasi yang telah diverifikasi, dipahami konteksnya, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tradisi keilmuan Islam mengenal sanad, yaitu mata rantai guru yang bersambung dan dapat ditelusuri. Semangatnya sejalan dengan telaah sejawat atau peer review dalam dunia sains: sebuah klaim harus bisa dilacak sumbernya dan diuji oleh orang yang kompeten.

Karena itu, bertanya, “Siapa gurunya, apa dalilnya, dan apa datanya?” bukanlah sikap kurang ajar, melainkan tanda keseriusan dalam belajar.

Amanah Harus Diberikan kepada Ahlinya

Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Anak muda hari ini adalah calon pemimpin, dokter, guru, ulama, profesional, dan pembuat kebijakan pada masa mendatang. Jika kebiasaan belajarnya dangkal, kualitas keputusan publik beberapa tahun ke depan juga berpotensi menjadi dangkal.

Sebaliknya, apabila sejak sekarang mereka terbiasa menuntut ilmu secara berjenjang, memeriksa sumber, dan jujur terhadap batas kemampuannya, mereka akan tumbuh menjadi ahli yang layak menerima amanah.

Hadis tentang tanda-tanda kiamat juga menyebut merebaknya minuman keras dan perzinaan secara terang-terangan sebagai dampak hilangnya ilmu. Dalam kehidupan remaja masa kini, bentuknya terasa semakin dekat: minuman beralkohol yang dikemas sebagai gaya hidup, pornografi yang hanya berjarak satu ketukan, judi daring, dan narkoba.

Berbagai kajian mengingatkan bahwa kecanduan dapat mengganggu kontrol diri, konsentrasi, dan kesehatan mental remaja, sementara otak mereka masih berada dalam tahap perkembangan. Ketika nilai dan pengetahuan tidak lagi menjadi kompas, batas antara yang pantas dan tidak pantas menjadi kabur, lalu perlahan dianggap biasa.

Anak Muda Bisa Menjadi Penjaga Ilmu

Hadis mengenai tanda-tanda kiamat bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, apalagi menghakimi generasi muda. Para ulama memaknainya sebagai peringatan dini atau early warning: ajakan untuk memperkuat benteng, bukan alasan untuk bersikap pesimistis.

Anak muda bukanlah korban pasif perkembangan zaman. Mereka dapat menjadi penjaga ilmu. Setidaknya, ada empat langkah yang bisa dimulai hari ini.

Pertama, periksa sebelum percaya. Pastikan siapa sumber informasi, apa dasar pernyataannya, serta apakah orang tersebut kompeten dalam bidang yang dibicarakan.

Kedua, beri jeda sebelum membagikan informasi. Satu menit yang digunakan untuk melakukan verifikasi dapat menghentikan satu rantai penyebaran kabar bohong.

Ketiga, carilah guru, bukan hanya konten. Ikutilah kajian atau kelas bersama pengajar yang jelas kompetensinya. Jadikan media sosial sebagai pelengkap, bukan pengganti proses belajar.

Keempat, beranilah berkata, “Saya belum tahu.” Kerendahan hati intelektual adalah tanda kecerdasan, bukan kelemahan.

Generasi muda tentu tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Keluarga, sekolah, kampus, dan masjid perlu menjadi ruang belajar yang hangat—tempat pertanyaan kritis disambut, bukan dibungkam. Remaja yang merasa didengar cenderung tidak mencari pengakuan di tempat yang keliru.

Orang dewasa juga perlu memberikan teladan. Sebab, anak muda lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada sekadar mengikuti apa yang dinasihatkan.

Kabar baiknya, keadaan ini masih bisa diubah bersama. Ilmu memang bisa terangkat, tetapi ilmu juga dapat dirawat. Satu pertanyaan kritis, satu buku yang dibaca hingga tuntas, dan satu kajian yang diikuti dengan sungguh-sungguh merupakan langkah kecil untuk menjaga cahaya ilmu tetap menyala.

Generasi yang tumbuh di tengah banjir informasi tidak perlu menutup layar. Mereka perlu belajar menjadi penyaring yang bijak. Sebab, kualitas sebuah zaman tidak hanya diukur dari banyaknya hal yang diketahui, tetapi juga dari kejujuran manusia dalam mengakui apa yang belum diketahuinya.

Wallahu a’lam bisshawab.

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less