Breaking News
light_mode

Tantang Dakwah Diera Konvergensi Media

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Andi Utami Ananingsih Musdar
(Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam Pascasarjana UIN Alauddin Makassar)

Perwajahan dakwah hari ini tidak lagi sama dengan dua atau tiga dekade lalu. Jika dahulu pesan-pesan agama bersandar kuat pada pengajian tatap muka, khotbah Jumat di masjid, atau rubrikasi khusus di media cetak, kini realitas tersebut telah bergeser secara radikal. Kita sedang berada di pusaran konvergensi media—sebuah era di mana batas antara media cetak, siaran (radio/TV), dan media digital melebur menjadi satu kesatuan di dalam genggaman layar gawai.

Bagi dunia dakwah, fenomena ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membuka keran demokratisasi informasi keagamaan yang luar biasa luas. Namun di sisi lain, konvergensi media membawa sederet tantangan struktural dan kultural yang jika gagal dimitigasi, justru dapat mendegradasi esensi nilai dakwah itu sendiri.

Hiper-realitas dan Pendangkalan Makna
Tantangan terbesar dakwah di ruang digital saat ini adalah tarikan algoritma media sosial. Format konten yang bergerak cepat—seperti video pendek berdurasi kurang dari 60 detik—menuntut pesan agama disampaikan secara instan dan atraktif. Akibatnya, terjadi risiko simplifikasi atau pendangkalan materi.

Agama yang sejatinya memiliki kedalaman teologis, sejarah, dan fikih yang kompleks, kerap kali diringkas menjadi potongan video demi mengejar views, likes, dan keterikatan penonton (engagement). Dakwah pun kerap terjebak dalam industri hiburan (pop-islamisme). Penceramah tidak lagi hanya dituntut memiliki kedalaman ilmu, melainkan juga harus memiliki daya pikat visual dan performa yang ramah algoritma. Ketika popularitas digital menjadi tolok ukur utama kesuksesan, substansi dakwah rentan tergerus oleh sensasi.

Komodifikasi dan Fragmentasi Otoritas
Konvergensi media juga melahirkan fenomena “ustaz dadakan”. Ruang digital memberikan panggung yang setara bagi siapa saja untuk berbicara atas nama agama, tanpa memandang latar belakang sanad keilmuan yang jelas. Hal ini memicu fragmentasi otoritas keagamaan. Masyarakat awam sering kali kesulitan membedakan mana fatwa yang lahir dari kedalaman ijtihad ulama berkompeten, dan mana opini keagamaan yang sekadar mencari panggung viral.

Dampaknya adalah munculnya polarisasi di akar rumput. Narasi keagamaan yang keras, hitam-putih, dan saling mengafirkan justru lebih mudah memicu emosi publik dan mendapat panggung besar di media sosial. Ruang publik kita akhirnya riuh oleh perdebatan kusir, bukan oleh internalisasi nilai keimanan yang menyejukkan.

Refleksi Penting: Konvergensi media menuntut para dai tidak sekadar memindahkan mimbar konvensional ke layar digital, melainkan merumuskan ulang metodologi penyampaian tanpa mengorbankan integritas substansi materi.

Strategi Adaptasi: Menguasai Arus
Menghadapi realitas ini, para penggiat dakwah tidak boleh bersikap reaktif apalagi menarik diri. Menolak konvergensi media sama saja dengan mengucilkan diri dari denyut nadi kehidupan masyarakat modern. Langkah strategis yang harus diambil meliputi tiga hal utama:

Tantang Dakwah Diera Konvergensi Media

Konvergensi media hanyalah sebuah alat (medium). Ia bisa menjadi wasilah (sarana) yang mengantarkan umat menuju pencerahan, atau justru menjadi alat yang mencerai-beraikan. Tantangan dakwah hari ini bukan lagi terletak pada keterbatasan jangkauan, melainkan pada bagaimana menjaga kemurnian dan kedalaman pesan agama di tengah riuhnya arus informasi.

Sudah saatnya institusi keagamaan, para dai, dan cendekiawan muslim keluar dari zona nyaman. Dakwah kontemporer harus mampu mengisi ruang-ruang konvergensi ini dengan konten yang tidak hanya estetis secara visual, tetapi juga kokoh secara metodologi keilmuan. Hanya dengan cara itulah, esensi dakwah sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) dapat membumi di era digital. (*)

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyerahan Simbolis Manfaat Jaminan Kematian dan Jaminan Hari Tua kepada Anggota Gereja Petra Makassar

    Penyerahan Simbolis Manfaat Jaminan Kematian dan Jaminan Hari Tua kepada Anggota Gereja Petra Makassar

    • 0Komentar

    Sebagai bentuk komitmen dalam memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada seluruh lapisan masyarakat, telah dilaksanakan penyerahan simbolis manfaat Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Hari Tua (JHT) kepada anggota Gereja Petra Makassar, di Makassar. Penyerahan manfaat dilakukan secara simbolis kepada ahli waris peserta Ingrid Mangitung sebesar Rp43.051.220, sebagai wujud nyata hadirnya negara dalam memberikan perlindungan finansial […]

  • Kanwil Kemenkum Babel dan Bapemperda DPRD Bangka Bahas Ranperda RPPLH 2025–2055

    Kanwil Kemenkum Babel dan Bapemperda DPRD Bangka Bahas Ranperda RPPLH 2025–2055

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung menerima koordinasi dan konsultasi Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Bangka terkait Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahun 2025–2055, Senin (10/8/2026), di Ruang Rapat Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan Manurung, melalui […]

  • Sentra KI Perguruan Tinggi Didorong Jadi Pusat Hilirisasi Hasil Riset

    Sentra KI Perguruan Tinggi Didorong Jadi Pusat Hilirisasi Hasil Riset

    • 0Komentar

    Sentra Kekayaan Intelektual (KI) perguruan tinggi didorong Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) untuk bertransformasi menjadi pusat hilirisasi hasil riset dan komersialisasi inovasi. Melalui penguatan tata kelola dan penyusunan Panduan Sentra KI Perguruan Tinggi, Sentra KI diharapkan tidak hanya berperan dalam pelindungan KI, tetapi juga mampu meningkatkan pemanfaatan hasil riset untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Komitmen […]

  • Terbit 40 Buku Digital Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Sila Unduh di Smart PAI

    Terbit 40 Buku Digital Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Sila Unduh di Smart PAI

    • 0Komentar

    Kementerian Agama menerbitkan 39 buku teks utama PAI dan Budi Pekerti untuk jenjang PAUD/TK hingga SMA/SMK dan SLB, serta satu buku ajar PAI untuk perguruan tinggi umum. Empat puluh buku ini terintegrasi dengan platform digital Smart PAI berbasis Artificial Intelligence (AI). Smart PAI adalah sebuah ekosistem pembelajaran berbasis web (https://smartpai.kemenag.go.id/en) yang memadukan buku digital, kelas […]

  • H Faisal Ibrahim Raih Doktor Honoris Causa dari Thailand, Alumni As’adiyah yang Konsisten Mengabdi di Pendidikan dan Sosial

    H Faisal Ibrahim Raih Doktor Honoris Causa dari Thailand, Alumni As’adiyah yang Konsisten Mengabdi di Pendidikan dan Sosial

    • 0Komentar

    H. Faisal Ibrahim Surur kembali menorehkan pencapaian membanggakan. Direktur Utama PT Saudi Patria Wisata tersebut meraih gelar Doktor Honoris Causa (Dr. H.C.) dari Universitas Islam Syekh Daud Al-Fathani, Thailand, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusinya dalam bidang pendidikan dan sosial. Penghargaan tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Faisal Ibrahim. Sebelum dikenal sebagai pengusaha dan tokoh […]

  • Rektor UNM: Lulusan Harus Berintegritas dan Siap Bersaing Global, Alumni Tekankan Pendidikan sebagai Amanah

    Rektor UNM: Lulusan Harus Berintegritas dan Siap Bersaing Global, Alumni Tekankan Pendidikan sebagai Amanah

    • 0Komentar

    Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Farida Patitingi, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Lebih dari itu, universitas harus melahirkan insan yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki daya saing tinggi di tengah kompetisi global yang kian ketat. Dalam sambutannya pada sebuah forum akademik, Rektor menyampaikan bahwa UNM terus berupaya merumuskan […]

expand_less