Breaking News
light_mode

LAILATUL QADAR: Makna Teologis dan Dimensi Spiritual dalam Pandangan Ulama

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM)

Pendahuluan

Dalam tradisi Islam, bulan Ramadhan merupakan bulan yang memiliki kedudukan istimewa karena di dalamnya terdapat malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini diyakini sebagai malam turunnya Al-Qur’an dan memiliki keutamaan ibadah yang melebihi ibadah selama seribu bulan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai upaya meraih keberkahan malam tersebut.
Lailatul Qadar tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam turunnya wahyu, tetapi juga sebagai fenomena spiritual yang memiliki dampak besar bagi kehidupan religius seorang Muslim. Para ulama tafsir, hadis, dan tasawuf memberikan berbagai penjelasan mengenai makna dan hikmah Lailatul Qadar, baik dari segi teologis maupun spiritual. Kajian ini berusaha mengkaji konsep tersebut melalui dalil-dalil Al-Qur’an, hadis Nabi, serta pemikiran para ulama.
Dalil Al-Qur’an tentang Lailatul Qadar
Keutamaan Lailatul Qadar secara eksplisit dijelaskan dalam surah Al-Qadr. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Ayat ini menegaskan bahwa Lailatul Qadar memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena satu malam ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan atau sekitar delapan puluh tiga tahun.[^1]
Selain itu, Al-Qur’an juga menyebutkan malam ini dalam surah Ad-Dukhan:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.”
Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan malam yang diberkahi tersebut adalah Lailatul Qadar yang terjadi pada bulan Ramadhan.[^2] Ayat ini menunjukkan bahwa malam tersebut merupakan momentum penting dalam sejarah turunnya wahyu sekaligus sebagai simbol keberkahan bagi umat manusia.
Hadis Nabi tentang Keutamaan Lailatul Qadar
Penjelasan mengenai Lailatul Qadar juga banyak ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim disebutkan:
“Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”[^3]
Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu keutamaan Lailatul Qadar adalah kesempatan untuk memperoleh ampunan Allah bagi orang yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk mencari malam tersebut pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Nabi bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”[^4]
Anjuran ini menunjukkan bahwa pencarian Lailatul Qadar harus dilakukan dengan kesungguhan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Makna Lailatul Qadar dalam Pandangan Ulama
Secara linguistik, kata qadar memiliki beberapa makna seperti kemuliaan, ketetapan, dan ukuran. Menurut Ibn Katsir, kata qadar dalam konteks Lailatul Qadar menunjukkan kemuliaan malam tersebut serta sebagai malam ditetapkannya berbagai urusan makhluk selama satu tahun.[^5]
Pendapat serupa dikemukakan oleh Al-Qurtubi yang menyatakan bahwa malam tersebut dinamakan Lailatul Qadar karena kemuliaannya yang sangat tinggi di sisi Allah. Pada malam itu para malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan bagi orang-orang yang beribadah.[^6]
Sementara itu, Al-Tabari menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar merupakan awal dari proses pewahyuan yang kemudian berlangsung secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.[^7]
Dimensi Spiritual Lailatul Qadar
Selain dimensi historis sebagai malam turunnya Al-Qur’an, Lailatul Qadar juga memiliki dimensi spiritual yang sangat mendalam. Para ulama tasawuf menekankan bahwa malam ini merupakan momentum untuk melakukan transformasi spiritual melalui ibadah yang khusyuk dan introspeksi diri.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa keutamaan Lailatul Qadar tidak hanya terletak pada waktunya, tetapi juga pada kesiapan hati manusia untuk menerima cahaya petunjuk Allah.[^8] Dengan kata lain, seseorang yang memiliki hati yang bersih dan penuh keikhlasan lebih mudah merasakan keberkahan malam tersebut.
Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Ibn Rajab al-Hanbali yang menegaskan bahwa hikmah dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan.[^9]
Relevansi Lailatul Qadar dalam Kehidupan Spiritual Muslim
Dalam kehidupan seorang Muslim, Lailatul Qadar menjadi momentum penting untuk memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah yang intensif. Tradisi i’tikaf, shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa merupakan bentuk penghidupan malam tersebut.
Salah satu doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).[^10]
Doa ini menunjukkan bahwa inti dari pencarian Lailatul Qadar adalah memohon ampunan dan rahmat Allah SWT.

Kesimpulan
Lailatul Qadar merupakan malam yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam ajaran Islam. Al-Qur’an dan hadis Nabi memberikan penjelasan yang jelas mengenai keutamaan malam tersebut sebagai malam turunnya wahyu dan malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Pandangan para ulama menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki dimensi teologis, historis, dan spiritual yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Malam ini bukan hanya sekadar peristiwa ritual tahunan dalam bulan Ramadhan, tetapi juga momentum transformasi spiritual yang dapat meningkatkan kualitas keimanan dan kedekatan seorang Muslim dengan Allah SWT.

Catatan Kaki
[^1]: Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Qadr: 1–3.
[^2]: Muhammad bin Jarir al-Tabari, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), jilid 25, hlm. 108.
[^3]: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Fadhail Lailatul Qadar.
[^4]: Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Siyam.
[^5]: Ismail ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), jilid 8, hlm. 441.
[^6]: Abu Abdullah al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), jilid 20, hlm. 134.
[^7]: Al-Tabari, Jami’ al-Bayan, jilid 25, hlm. 110.
[^8]: Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), jilid 1, hlm. 203.
[^9]: Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), hlm. 191.
[^10]: Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Kitab al-Shalat.

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Talenta Perempuan dan Semangat Pengabdian  dari PONTREN MODERN IMMIM PUTRI: Jejak Prof. Muzdalifah dan Hj. Munjiyah Mayangsari

    Talenta Perempuan dan Semangat Pengabdian  dari PONTREN MODERN IMMIM PUTRI: Jejak Prof. Muzdalifah dan Hj. Munjiyah Mayangsari

    • 0Komentar

    Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Setiap pesantren sejatinya menanam benih harapan. Namun, hanya sedikit yang mampu membuktikan bahwa benih itu tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak orang. Ukuran keberhasilan sebuah pesantren bukanlah semata jumlah santri yang lulus, melainkan sejauh mana alumninya mampu menghadirkan manfaat, memimpin dengan integritas, dan tetap teguh menjaga nilai-nilai […]

  • DPP Gerindra Resmi Tetapkan Yasir Mahmud Sebagai Wakil Ketua DPRD Sulsel

    DPP Gerindra Resmi Tetapkan Yasir Mahmud Sebagai Wakil Ketua DPRD Sulsel

    • 0Komentar

    JAKARTA, RAKYATSULSEL.CO – Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, Andi Iwan Darmawan Aras menyerahkan Surat Keputusan (SK) DPP Partai Gerindra kepada Yasir Mahmud sebagai Wakil Ketua II DPRD Sulsel periode 2024-2029. SK tersebut diterima oleh Yasir di Ruang Fraksi Partai Gerindra DPR RI di Senayan, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Surat keputusan ini merupakan hasil keputusan pimpinan DPP […]

  • Menuju WBBM 2026, Kanwil Kemenkum Babel Evaluasi Kesiapan Seluruh Pokja

    Menuju WBBM 2026, Kanwil Kemenkum Babel Evaluasi Kesiapan Seluruh Pokja

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung terus mematangkan persiapan menghadapi Desk Evaluasi Zona Integritas menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) Tahun 2026 oleh Tim Penilai Nasional (TPN) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB). Persiapan tersebut dibahas dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan […]

  • FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    • 0Komentar

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) memasuki babak baru kepemimpinan untuk masa jabatan 2026–2030. Momentum tersebut ditandai dengan pelantikan dan pengukuhan pengelola Unusia yang digelar di Aula Jakoeb Oetama, Unusia Jakarta, Kamis (20/8). Dalam struktur baru tersebut, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. dipercaya memimpin FEB sebagai Dekan. Ia didampingi Maryam, […]

  • Dr. Mahmud La Kaiya Terpilih sebagai Ketua Umum PATSI UMI pada Kongres II

    Dr. Mahmud La Kaiya Terpilih sebagai Ketua Umum PATSI UMI pada Kongres II

    • 0Komentar

    Kongres II Persatuan Alumni Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia (PATSI UMI) berlangsung penuh semangat kebersamaan dan demokrasi. Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta penuh dan peninjau dari angkatan 1978 hingga 2021 ini mempertemukan alumni Teknik Sipil UMI dari berbagai generasi. Hadir pula jajaran Dewan Pengurus Nasional (DPN) dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PATSI UMI dari berbagai […]

  • Bincang Bersama Media di Makassar, Menag Nasaruddin Umar Tekankan Peran Pers Jaga Persatuan

    Bincang Bersama Media di Makassar, Menag Nasaruddin Umar Tekankan Peran Pers Jaga Persatuan

    • 0Komentar

    Suasana akrab mewarnai pertemuan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dengan sejumlah pimpinan media dan wartawan di Makassar, Ahad (14/6/2026). Dalam sesi wawancara dan diskusi yang berlangsung santai tersebut, Menag didampingi Staf Khusus Menteri Agama RI Dr. H. Bunyamin Yafid. Sejumlah tokoh pers Sulawesi Selatan turut hadir dalam kesempatan itu, di antaranya Ketua PWI Sulsel terpilih […]

expand_less