Breaking News
light_mode

MANPOWER: Di Balik Keringat yang Tak Terhitung, Ada Martabat Yang Diabaikan

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • print Cetak

(Refleksi Kritis Hari Buruh Nasional)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Ada manusia yang bekerja tanpa lelah, tetapi tidak pernah benar-benar dihargai. Ada tangan yang terus bergerak, tetapi suaranya tak pernah didengar. Dan ada keringat yang jatuh setiap hari, namun nilainya tidak pernah benar-benar ditimbang dengan adil.

Di balik gedung-gedung tinggi yang kita banggakan, di balik perusahaan yang kita puji sebagai simbol kemajuan, ada wajah-wajah lelah yang tidak pernah masuk dalam laporan keberhasilan. Mereka bekerja, tetapi tidak dihitung sebagai manusia. Mereka berjuang, tetapi diperlakukan sebagai angka.

Di situlah tragedi kemanusiaan itu bermula, bukan karena kurangnya tenaga, tetapi karena hilangnya rasa. Disinilah Makna “Manpower” berada dalam persimpangan jalan anatara eksploitasi dan kemanusiaan , antara profesionalisme dan martabat serta hati nurani.

Secara sederhana, manpower berarti tenaga kerja, kekuatan manusia yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Namun dalam perspektif yang lebih dalam, ia bukan sekadar “tenaga”, melainkan amanah. Karena Manusia bukan alat produksi. Ia adalah makhluk yang memiliki martabat, perasaan, harapan, dan keluarga yang menunggu di rumah. Ketika manusia direduksi menjadi sekadar “tenaga kerja”, maka pada saat itu pula kemanusiaan mulai dilucuti perlahan.

Hari ini kita menyaksikan sebuah ironi yang menyakitkan. Ada yang bekerja siang dan malam, tetapi tetap hidup dalam kekurangan. Ada yang menghabiskan waktunya untuk orang lain, tetapi keluarganya sendiri kekurangan perhatian. Ada yang memeras tenaga, tetapi tidak pernah menikmati hasilnya. Inilah realitas sosial dimana keringat pekerja atau buruh tidak sejalan denga keadilan dan nilai martabat kemanusiaan.

Lebih menyedihkan lagi, ketika ambisi pemilik kekuasaan dan modal menjadi begitu besar, hingga lupa bahwa di balik keberhasilan itu ada manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Bukankah ini bentuk eksploitasi yang dibungkus profesionalisme?. Bukankah ini ketidakadilan yang dilegalkan oleh sistem?

Dalam konteks kekinian Hari Buruh Nasional mestinya menjadi momentum menghidupkan nurani. Yangmana setiap tahun, bangsa ini memperingati Hari Buruh Nasional, seharusnya kita tidak hanya mengibarkan simbol, tetapi menghidupkan kesadaran. Hari itu bukan sekadar seremoni, ia adalah cermin. Cermin yang memantulkan wajah-wajah yang selama ini kita abaikan. Cermin yang memperlihatkan apakah kita telah adil atau justru ikut melanggengkan ketidakadilan.

Hari Buruh adalah momentum untuk bertanya dengan jujur, Apakah kita telah memanusiakan manusia atau justru memanfaatkan mereka demi ambisi?

Ia adalah panggilan moral untuk mengembalikan makna kerja, bukan sebagai eksploitasi, tetapi sebagai kolaborasi kemanusiaan.

Karena Islam dan Keadilan Sosial menempatkan manusia pada martabat yang seharusnya. Islam tidak pernah memandang manusia sebagai alat. Islam memuliakan manusia sebagai amanah yang harus dijaga. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isra: 70)

Kemuliaan ini tidak boleh direndahkan oleh sistem apa pun. Bahkan Rasulullah SAW.memberikan peringatan keras:
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.”(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini bukan sekadar etika kerja, tetapi revolusi moral dalam dunia ketenagakerjaan, bahwa setiap keringat memiliki hak, setiap kerja memiliki nilai, dan setiap manusia berhak diperlakukan dengan adil. Namun realitas hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Ambisi sering kali mengalahkan empati, keuntungan mengalahkan keadilan, dan sistem mengalahkan nurani.

Ada perusahaan yang tumbuh besar, tetapi tidak membesarkan pekerjanya. Ada pemimpin yang dihormati, tetapi tidak menghormati bawahannya. Padahal Rasulullah SAW. bersabda:
إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ
“Saudara-saudaramu adalah tanggunganmu, Allah menjadikan mereka di bawah kekuasaanmu.”(HR. Bukhari)

Perhatikan, bukan “bawahanmu”, tetapi “saudaramu.” Di sinilah paradigma yang hilang hari ini. Hari Buruh seharusnya menjadi pengingat bagi negara dan pemegang kebijakan, bahwa keadilan tidak boleh ditunda. Negara tidak boleh netral dalam ketidakadilan. Negara harus hadir sebagai pelindung, bukan sekadar pengatur.

Jika regulasi lemah, maka eksploitasi akan tumbuh. Jika pengawasan longgar, maka ketidakadilan akan menjadi budaya. Allah mengingatkan:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَان
“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.”(QS. An-Nahl: 90)

Oleh karenanya Keadilan bukan pilihan, ia adalah perintah. Perintah yang harus dilaksanakan dalam tindakan konkrit dan bukan dalam retorika ataupun formalistik simbolik.

Namun ada luka yang lebih dalam dari sekadar ekonomi, yakni luka batin. Seorang pekerja yang tidak dihargai akan kehilangan semangat hidupnya. Seorang ayah yang pulang dengan lelah, tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, akan pulang dengan hati yang hancur. Seorang ibu yang bekerja keras, tetapi tetap dipandang rendah, akan kehilangan rasa percaya dirinya. Dan di situlah kerusakan sosial mulai tumbuh dari dalam….pelan, sunyi, tetapi menghancurkan.

Umar bin Khattab pernah berkata:
لَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ لَخِفْتُ أَنْ يُسْأَلَ عَنْهَا عُمَرُ
“Jika seekor keledai tersandung di Irak, aku takut Allah akan menanyakannya kepadaku.”

Ini adalah kesadaran kepemimpinan yang luar biasa. Lalu bagaimana dengan manusia yang bekerja di bawah kita? Apakah kita yakin tidak akan dimintai pertanggungjawaban?

Maka dalam situasi saat ini diperlukan Solusi, solusi yang memulihkan Kemanusiaan dan Menghidupkan Nurani

Hari Buruh harus menjadi titik balik, bukan sekadar peringatan, tetapi perubahan. Pemulihan harus dimulai dari kesadaran bahwa manusia bukan alat, kerja bukan eksploitasi, dan keberhasilan tidak boleh dibangun di atas penderitaan orang lain. Kita perlu membangun sistem yang adil, kebijakan yang berpihak, dan kepemimpinan yang berempati.

Namun yang paling mendasar adalah menghidupkan nurani. Karena tanpa nurani, hukum bisa dilanggar. Tanpa hati, aturan bisa dimanipulasi. Imam Al-Ghazali berkata:
إِصْلَاحُ الْقَلْبِ أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ
“Perbaikan hati adalah akar dari segala urusan kebaikan”.

Pada akhirnya, Hari Buruh bukan hanya milik para pekerja. Ia adalah milik kita semua, sebagai pengingat bahwa dunia ini tidak diukur dari seberapa besar keuntungan yang kita hasilkan, tetapi dari seberapa banyak manusia yang kita muliakan. Karena bisa jadi, yang kita anggap kecil hari ini justru menjadi saksi terbesar di hadapan Allah nanti.

Maka sebelum semuanya terlambat…hargailah mereka, adililah mereka, dan muliakanlah mereka. Karena di balik setiap keringat yang jatuh…ada doa yang mungkin lebih tulus daripada semua ambisi kita.Wallahu A’lam Bish-Shawab

🙏MK

SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenkum Sumsel Tingkatkan Akuntabilitas Data Keuangan dan BMN Triwulan III

    Kemenkum Sumsel Tingkatkan Akuntabilitas Data Keuangan dan BMN Triwulan III

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan mengikuti kegiatan Rekonsiliasi dan Pemutakhiran Data Laporan Keuangan dan Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Hukum Triwulan III Tahun 2026 Tingkat Satuan Kerja dan Kantor Wilayah secara teleconference di Ruang PP, Rabu (30/9). Kegiatan tersebut diikuti oleh Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum, Pejabat Pembuat Komitmen, Bendahara, Operator GLP, serta […]

  • Semester I 2026, Permohonan Kekayaan Intelektual di Bangka Belitung Meningkat 45%

    Semester I 2026, Permohonan Kekayaan Intelektual di Bangka Belitung Meningkat 45%

    • 0Komentar

    Kesadaran masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk melindungi hasil karya, inovasi, dan kreativitas melalui pendaftaran Kekayaan Intelektual (KI) terus menunjukkan tren positif. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah permohonan KI yang diajukan pada Semester I Tahun 2026, Kamis (2/07/2026). Berdasarkan data Dashboard Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual , selama periode Januari–Juni 2026 tercatat sebanyak 638 permohonan […]

  • Tumbilotohe

    Tumbilotohe

    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Kaswad SartonoKakanwil Kemenag Prov. Gorontalo Malam ke-27 Ramadhan 1447 H bagi saya adalah malam yang sangat istimewa. Malam itu saya berkesempatan menghadiri sekaligus menyaksikan puncak Festival Tumbilotohe Hulonthalo Mulolo tingkat Provinsi Gorontalo tahun 2026/1447 yang dipusatkan di kawasan Blok Plan Perkantoran Provinsi Gorontalo. Di tengah gemerlap ribuan cahaya lampu yang menyala serentak, saya […]

  • Kemenkum Sumsel Pastikan Raperbup Perubahan RKPD 2026 dan RSUD di OKU Selaras Regulasi

    Kemenkum Sumsel Pastikan Raperbup Perubahan RKPD 2026 dan RSUD di OKU Selaras Regulasi

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan melalui Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum melaksanakan rapat harmonisasi terhadap dua Rancangan Peraturan Bupati (Raperbup) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan (23/7). Rapat harmonisasi dipimpin oleh Kepala Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum, Nur’Ainun, selaku penanggung jawab Tim Kerja Harmonisasi. Kegiatan tersebut […]

  • Persiapan Kunker Komisi XIII DPR RI, Kemenkum Sumsel Rapat Koordinasi dengan Pemprov dan Instansi Vertikal

    Persiapan Kunker Komisi XIII DPR RI, Kemenkum Sumsel Rapat Koordinasi dengan Pemprov dan Instansi Vertikal

    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menggelar rapat koordinasi persiapan menyambut agenda Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi XIII DPR RI Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027. Rapat tersebut berlangsung di Ruang Rapat Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Palembang (7/10). Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Bagian Otonomi Daerah, Yunan Helmi, yang didampingi […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Perkuat Pemahaman Masyarakat Terkait Layanan Legalisasi Dokumen Publik

    Kanwil Kemenkum Babel Perkuat Pemahaman Masyarakat Terkait Layanan Legalisasi Dokumen Publik

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung menggelar Sosialisasi Layanan Legalisasi Dokumen Publik di Wilayah, bertempat di Balai Pengayoman Kanwil Kemenkum Babel, Kamis (18/06/2026). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan Manurung, Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Kaswo, Kepala Divisi P3H, Rahmat Feri Pontoh, Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum, […]

expand_less