Breaking News
light_mode

Lailatul Qadar, Perspektif Kekinian

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: H. Kaswad Sartono
Kepala Kanwil Agama Gorontalo

Hari-hari terakhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Islam. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan doa dan dzikir semakin khusyuk, dan hati manusia terasa lebih lembut. Pada fase inilah umat Islam menanti satu malam yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam kemuliaan yang dijelaskan dalam Surah Al-Qadr.

Allah berfirman bahwa pada malam itu para malaikat dan ruh turun dengan izin Tuhan membawa “min kulli amrin” yakni dari setiap urusan. Ayat ini memberi pesan yang sangat dalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam untuk memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga malam yang berkaitan dengan berbagai urusan kehidupan manusia. Di sanalah spiritualitas bertemu dengan arah kehidupan.

Jika dihitung secara matematis, seribu bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan—sepanjang usia manusia pada umumnya. Artinya, satu malam dapat bernilai seperti seluruh perjalanan hidup manusia. Inilah bentuk kemurahan Tuhan kepada umat Nabi Muhammad yang usia hidupnya relatif lebih pendek dibanding umat-umat terdahulu. Artinya, jika umat Muhammad mendapat karunia “Lailatul Qadr” sepuluh kali dalam 15 tahun misalnya, berarti orang itu di hadapan Tuhan dan Malaikat bisa berusia 830 tahun. Masya Allah.

Dalam kisah para nabi, kita mengenal usia panjang seperti Nuh yang berdakwah 950 tahun. Dalam riwayat lain disebutkan usia panjang manusia generasi awal seperti Adam. Ketika umat Nabi Muhammad tidak memiliki rentang usia sepanjang itu, Allah menghadirkan malam yang kualitasnya setara dengan umur panjang tersebut. Seolah-olah Tuhan berkata bahwa kemuliaan hidup tidak semata ditentukan oleh lamanya usia, tetapi oleh kualitas kesadaran manusia dalam satu momen spiritual yang benar.

Di sinilah makna Lailatul Qadar perlu dibaca secara lebih luas dalam konteks kehidupan umat Islam masa kini. Spirit malam kemuliaan itu tidak hanya berhenti pada shalat malam, dzikir, dan doa. Ia seharusnya menjadi momentum reorientasi hidup, malam ketika manusia mengevaluasi arah perjalanan dirinya.

Bagi seorang birokrat, Lailatul Qadar dapat menjadi malam muhasabah untuk menata kembali integritas dan komitmen pelayanan publik. Pada malam yang sunyi itu ia dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah jabatan yang diemban telah benar-benar digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan masyarakat, atau justru sekadar menjadi ruang kenyamanan pribadi.

Bagi seorang pengusaha, malam itu dapat menjadi saat untuk menimbang kembali etika usaha. Apakah keuntungan yang diperoleh menghadirkan keberkahan, atau hanya sekadar angka yang besar namun mengabaikan nilai keadilan dan kemanusiaan.

Bagi seorang politisi, Lailatul Qadar dapat menjadi malam pembaruan niat, bahwa politik sejatinya adalah jalan pengabdian kepada rakyat, bukan semata arena perebutan kekuasaan.

Dengan cara pandang seperti ini, Lailatul Qadar menjadi malam kesadaran moral kolektif. Ia tidak hanya melahirkan pribadi-pribadi yang rajin beribadah, tetapi juga pemimpin yang jujur, pengusaha yang amanah, dan birokrat yang melayani.

Lebih dari itu, Lailatul Qadar sejatinya juga merupakan malam lahirnya energi perubahan peradaban. Malam itu berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an, kitab suci yang membimbing manusia dalam membangun peradaban ilmu, keadilan sosial, dan kemuliaan akhlak. Ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad, yang lahir bukan hanya tradisi ibadah, tetapi juga peradaban yang menempatkan ilmu, keadilan, dan kemanusiaan sebagai fondasi kehidupan.

Karena itu, setiap kali umat Islam menanti Lailatul Qadar, sejatinya mereka sedang menanti momen ketika langit menyentuh bumi, ketika kesadaran spiritual manusia diperbarui agar kehidupan dunia berjalan lebih bermakna.

Pada akhirnya, pesan besar Lailatul Qadar adalah bahwa satu malam kesadaran yang jernih dapat mengubah arah hidup manusia. Ia dapat melahirkan keputusan-keputusan yang menentukan masa depan keluarga, masyarakat, bahkan bangsa.

Maka, mencari Lailatul Qadar bukan hanya dengan memperpanjang shalat malam, tetapi juga dengan membuka hati untuk memperbaiki arah hidup. Ketika seorang manusia menemukan kesadaran itu, mungkin saja ia tidak mengetahui secara pasti kapan Lailatul Qadar terjadi. Namun perubahan dalam dirinya, misalnya niat yang lebih tulus, keputusan yang lebih adil, dan komitmen yang lebih kuat untuk kebaikan. Itulah tanda bahwa malam kemuliaan itu telah menyentuh kehidupannya kita.

Dan ketika kesadaran seperti itu lahir dari banyak orang, maka Lailatul Qadar tidak lagi hanya menjadi pengalaman spiritual individual, tetapi menjadi energi yang menggerakkan perubahan peradaban bangsa menuju “Indonesia Emas 2045”. والله اعلم.

Gorontalo, 25 Ramadhan 1447 .

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Semarak Hari KI Sedunia, Kanwil Kemenkum Sumsel Hadir di CFD Beri Edukasi

    Semarak Hari KI Sedunia, Kanwil Kemenkum Sumsel Hadir di CFD Beri Edukasi

    • 0Komentar

    Dalam rangka memperingati Hari Kekayaan Intelektual Sedunia, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan menghadirkan layanan langsung kepada masyarakat melalui kegiatan Mobile Intellectual Property Clinic yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Kambang Iwak, Palembang, Minggu (26/04/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan dibuka langsung oleh Menteri […]

  • Malam Tirakatan HPN 2026: PWI Solo Ungkap Peran Besar Owner Wong Solo Grup Bagi Awak Media

    Malam Tirakatan HPN 2026: PWI Solo Ungkap Peran Besar Owner Wong Solo Grup Bagi Awak Media

    • 0Komentar

    Setiap ada kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Surakarta, Owner Wong Solo Grup, H Puspo Wardoyo berperan aktif untuk mensupportnya. Termasuk saat PWI Kota Surakarta menggelar malam tirakatan menyambut Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 di rumah dinas Wakil Walikota (Wawali) Surakarta di Jalan Gajah Mada, Solo, Selasa (10/2) malam. Kerapnya Puspo Wardoyo selaku Founder Destinasi […]

  • Hari Keluarga Nasional Jadi Momentum Perkuat Peran Keluarga sebagai Fondasi Pembangunan Bangsa

    Hari Keluarga Nasional Jadi Momentum Perkuat Peran Keluarga sebagai Fondasi Pembangunan Bangsa

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan melaksanakan Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 di halaman Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan, Senin (29/6). Upacara diikuti oleh seluruh jajaran pegawai sebagai bentuk penghormatan terhadap pentingnya peran keluarga dalam pembangunan bangsa. Upacara Hari Keluarga Nasional Tahun 2026 yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”. Bertindak […]

  • Tenaga Ahli Menteri Agama Beri Dukungan Langsung kepada Puluhan Ribu Guru di Porsenijar PGRI Sulsel 2026

    Tenaga Ahli Menteri Agama Beri Dukungan Langsung kepada Puluhan Ribu Guru di Porsenijar PGRI Sulsel 2026

    • 0Komentar

    Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H., menghadiri pembukaan Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Sulawesi Selatan Tahun 2026 yang digelar di Kabupaten Sidrap, Kamis (2/7/2026). Kehadiran Dr. Bunyamin menjadi bentuk dukungan moril kepada puluhan ribu guru yang mengikuti ajang tersebut, khususnya para guru yang berada di bawah naungan […]

  • Koordinator Stafsus Menag RI Isi Materi SKK PC PMII Makassar

    Koordinator Stafsus Menag RI Isi Materi SKK PC PMII Makassar

    • 0Komentar

    Kegiatan Sekolah Kader KOPRI (SKK) yang diselenggarakan oleh KOPRI PMII Kota Makassar menghadirkan narasumber nasional, Farid F. Saenong, Ph.D., Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertajuk “KOPRI dan Sinergi Gerakan Multisektoral” yang menyoroti pentingnya penguatan gerakan perempuan melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Di hadapan peserta […]

  • Usai Dilantik Jadi Dirjen Pesantren, Basnang Said Perkuat Perencanaan Program dan Penganggaran

    Usai Dilantik Jadi Dirjen Pesantren, Basnang Said Perkuat Perencanaan Program dan Penganggaran

    • 0Komentar

    Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Basnang Said, langsung bergerak memperkuat perencanaan program dan penganggaran setelah resmi dilantik oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, pada 15 September 2026. Pelantikan Basnang Said sekaligus menandai mulai beroperasinya Direktorat Jenderal Pesantren sebagai satuan kerja baru setingkat Eselon I dalam struktur organisasi Kementerian Agama. Basnang menegaskan, […]

expand_less