Breaking News
light_mode

Kembali ke Titik Nol 

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM) 

Idul Fitri datang seperti fajar yang tidak sekadar menyingsingkan cahaya, tetapi juga membuka lembaran batin yang lama tertutup. Ia bukan hanya penanda berakhirnya puasa, melainkan panggilan halus untuk kembali, bukan ke masa lalu, tetapi ke asal mula diri: titik nol. Di sanalah manusia dilahirkan tanpa beban, tanpa prasangka, tanpa luka yang dipelihara.

Titik nol adalah keadaan jiwa yang bening, ketika segala keruh yang dibawa oleh perjalanan hidup perlahan mengendap. Ia bukan sekadar kosong, tetapi kesucian yang penuh makna. Seperti cermin yang dibersihkan dari debu, titik nol membuat kita mampu melihat kembali wajah sejati, tanpa distorsi ego dan kepentingan dunia.

Ramadhan sesungguhnya adalah perjalanan menuju titik itu. Setiap lapar yang ditahan, setiap haus yang dipikul, adalah cara halus untuk meruntuhkan tembok-tembok keakuan. Kita belajar bahwa tubuh tidak selalu harus dituruti, dan jiwa tidak selalu harus dibiarkan liar. Dalam disiplin itu, perlahan kita diarahkan pulang.

Namun pulang bukanlah perkara mudah. Dunia telah mengajari kita banyak hal: bagaimana menginginkan, bagaimana membenci, bagaimana menyimpan dendam dengan rapi. Maka ketika Idul Fitri tiba, ia datang sebagai undangan: lepaskan semua itu, jika engkau ingin kembali menjadi ringan.

Kembali ke titik nol berarti berani memaafkan, bahkan ketika luka belum sepenuhnya sembuh. Karena sejatinya, memaafkan bukan tentang orang lain, tetapi tentang membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Di titik nol, tidak ada lagi ruang untuk menyimpan beban yang tidak perlu.

Dalam sunyi takbir yang bergema, ada getaran yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang peka. Ia seperti panggilan dari langit yang berkata: “Bukankah engkau telah cukup jauh tersesat? Kini kembalilah.” Dan dalam gema itu, manusia diingatkan bahwa segala yang ia miliki hanyalah titipan yang sementara.

Titik nol juga adalah kerendahan hati. Ia mengajarkan bahwa sebesar apa pun pencapaian, manusia tetaplah makhluk yang rapuh. Di hadapan Yang Maha Kuasa, semua gelar, semua status, luruh menjadi satu: hamba. Dan dalam kehambaan itulah, manusia menemukan kemuliaannya.

Seringkali kita mengira kemenangan Idul Fitri adalah tentang berhasil menahan lapar dan dahaga. Padahal kemenangan sejati adalah ketika hati tidak lagi dikuasai oleh amarah, ketika jiwa tidak lagi terikat pada kesombongan. Itulah kemenangan yang sunyi, tetapi paling bermakna.

Kembali ke titik nol bukan berarti melupakan masa lalu, melainkan memaknainya dengan cara yang baru. Luka tidak dihapus, tetapi diubah menjadi pelajaran. Kesalahan tidak disangkal, tetapi dijadikan pijakan untuk menjadi lebih bijaksana.

Di titik nol, manusia belajar untuk menerima. Bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan, dan tidak semua doa dikabulkan dengan cara yang kita inginkan. Namun dalam penerimaan itu, ada kedamaian yang tidak bisa dibeli oleh apa pun di dunia ini.

Idul Fitri akhirnya bukan sekadar perayaan, tetapi perenungan. Ia mengajak kita bertanya: setelah semua ini, ke mana kita akan melangkah? Apakah kita akan kembali mengotori hati yang telah dibersihkan, atau menjaganya dengan penuh kesadaran?

Maka kembali ke titik nol adalah sebuah awal, bukan akhir. Ia adalah pintu untuk memulai hidup dengan cara yang lebih jernih, lebih lembut, dan lebih sadar. Dan mungkin, di sanalah makna terdalam Idul Fitri: bukan hanya kembali suci, tetapi belajar untuk tetap suci di tengah dunia yang terus menggoda. (*)

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jajaran Kemenkum Sumsel Teguhkan Integritas dan Kinerja Awali Pekan

    Jajaran Kemenkum Sumsel Teguhkan Integritas dan Kinerja Awali Pekan

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan menggelar apel pagi di Lapangan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan, Senin (14/9). Apel rutij setiap awal pekan ini dipimpin oleh Kepala Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum, Nur Ainun, selaku pembina apel. Dalam amanatnya, Nur Ainun mengingatkan seluruh jajaran untuk terus meningkatkan semangat kerja, khususnya dalam memasuki triwulan […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Harmonisasikan Ranperda Kab. Bangka Selatan Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah

    Kanwil Kemenkum Babel Harmonisasikan Ranperda Kab. Bangka Selatan Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung menyelenggarakan rapat harmonisasi secara daring terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Kabupaten Bangka Selatan, Selasa (10/03/2026). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi terhadap Ranperda tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. Dalam sambutannya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum […]

  • ”HORMUZ & PERANG: Jalur Sempit yang Bisa Menjatuhkan Kekuatan Besar Dunia,….Lalu Bagaimana dengan Indonesia?”

    ”HORMUZ & PERANG: Jalur Sempit yang Bisa Menjatuhkan Kekuatan Besar Dunia,….Lalu Bagaimana dengan Indonesia?”

    • 0Komentar

    Oleh: Munawir Kamaluddin Coba bayangkan sebuah tempat yang sempit, jauh dari kita, namun diam-diam menentukan hidup banyak orang di seluruh dunia. Ia bukan kota besar, bukan pusat teknologi, dan bukan pula ibu kota negara adidaya. Ia hanyalah sebuah jalur laut. Namun dari sanalah, arah ekonomi global bisa berubah seketika. Itulah Selat Hormuzhari ini, kecil secara […]

  • Di Depan 35 Negara, Indonesia Serukan Tata Kelola Royalti Hak Cipta Lintas Negara yang Lebih Transparan

    Di Depan 35 Negara, Indonesia Serukan Tata Kelola Royalti Hak Cipta Lintas Negara yang Lebih Transparan

    • 0Komentar

    Pemerintah Indonesia mempertemukan delegasi dari 35 negara, organisasi internasional, lembaga manajemen kolektif, pencipta, pelaku industri, dan pakar untuk membahas tata kelola royalti hak cipta lintas negara di era digital. Forum Global Dialogue on Cross-Border Copyright Royalty Governance in the Digital Era berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di Bali dengan membahas tiga persoalan utama, yakni transparansi, […]

  • Kenalkan Program ‘Mappatabe’, Ditlantas Polda Sulsel Ajak Driver Ojol Jadi Pelopor Keselamatan

    Kenalkan Program ‘Mappatabe’, Ditlantas Polda Sulsel Ajak Driver Ojol Jadi Pelopor Keselamatan

    • 0Komentar

    Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Selatan menggandeng ratusan pengemudi ojek online (ojol) dalam upaya memperkuat keamanan dan ketertiban masyarakat melalui Apel Ojol Kamtibmas yang dirangkaikan dengan sosialisasi program layanan Polantas “Mappatabe”. Kegiatan tersebut digelar di Lapangan Apel Ditlantas Polda Sulsel, Rabu (11/2/2026). Apel dipimpin langsung oleh Direktur Lalu Lintas Polda Sulsel, Kombes Pol. Dr. […]

  • KONFLIK YANG DIPELIHARA: Siapa Untung, Siapa Rugi ?

    KONFLIK YANG DIPELIHARA: Siapa Untung, Siapa Rugi ?

    • 0Komentar

    Oleh: Munawir Kamaluddin Ada manusia yang merasa besar ketika mampu mengalahkan orang lain, namun lupa bahwa ia sedang mengecilkan dirinya sendiri.Ada yang merasa menang saat lawannya terdiam, padahal sesungguhnya ia hanya sedang memperlihatkan ketidakmampuannya untuk memahami.Dan ada pula yang begitu sibuk menyerang, hingga tak sempat menyadari bahwa yang paling terluka… justru jiwanya sendiri. Konflik, dalam […]

expand_less