Breaking News
light_mode

Nonton Perang Modern

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: Dr. Kaswad Sartono
Kepala Kanwil Kemenag Prov. Gorontalo

Orang desa, belajar agama di madrasah, kalau mendengar kata “perang”, yang terbayang adalah kisah Perang Badar. Pasukan saling berhadap-hadapan. Jelas siapa lawan, jelas siapa kawan. Senjatanya pedang, tombak, panah. Kendaraannya kuda dan unta. Yang maju ke medan tempur adalah mereka yang siap mati.

Dalam cerita wayang, kita dengar kisah Perang Baratayudha antara balatentata Pandawa melawan Kurawa dalam politik perebutan tahta Hastinaoura. Perang ini ksatria bertarung satu lawan satu. Ada adab, ada kesatriaannya. Bahkan dalam perang pun masih ada etika.

Kemudian, nonton film action berseri “Rambo” ala Amerika yang dibintangi Sylvester Stallone, perangnya di hutan, sungai, dan gunung, dengan senjata tradisional disamping mengandalkan fisik dan strategi jebakan, pisau, api, busur panah lawannya pakai senjata modern pistol dan senapan mesin.

Perang Rambo enak ditonton dan penuh etik, fasilitas publik dan rumah ibadah tidak dijadikan strategi melumpuhkan lawan, apalagi anak-anak dan warga sipil, tidak.

Ketika kita membaca histori perang merebut Kemerdekaan Indonesia. Perang Pangeran Diponegoro misalnya Senjatanya bambu runcing, senapan rampasan, paling canggih bom rakitan. Tentara dan pejuang saling berhadapan. Korbannya memang ada, tapi terbatas pada mereka yang benar-benar turun ke medan perang. Warga sipil umumnya tahu ke mana harus mengungsi. Perang terasa “terlihat”. Ada suara langkah, ada asap mesiu, ada pekikan takbir atau pekik merdeka.

Itulah yang bisa kita sebut perang tradisional. Perang yang masih kelihatan wajah manusianya—meski tetap saja menyakitkan.

Tapi sekarang, kita menyaksikan perang jenis lain, perang modern supercanggih.

Kita melihat berita tentang ketegangan antara Amerika-Israel versus Iran.

Yang terlihat bukan lagi pasukan berbaris. Bukan lagi denting pedang. Yang muncul di layar televisi adalah titik-titik cahaya di langit malam. Rudal meluncur ribuan kilometer. Drone terbang tanpa pilot. Serangan datang tanpa aba-aba. Kadang tidak terdengar langkah kaki, tahu-tahu gedung runtuh.

Perang modern ini seperti hantu. Tidak kelihatan tentaranya, tapi terasa dampaknya.
Tidak jelas di mana garis depannya, tapi semua bisa jadi sasaran.

Dulu, orang yang tidak ikut perang relatif aman.
Sekarang, seorang pemimpin negara bisa jadi target di ruang kerjanya.
Warga sipil bisa terdampak di rumahnya. Umat beragama ibadah di rumah ibadahnya bisa jadi korban.
Anak-anak bisa jadi korban tanpa pernah tahu apa itu politik. Dahsyat.

Inilah yang membuat hati orang desa seperti saya geleng-geleng kepala dan sedih.

Kalau dulu perang itu “adu keberanian”, sekarang perang terasa seperti “adu teknologi”. Siapa paling canggih, dia paling mematikan. Yang jauh bisa memukul yang dekat. Yang tak terlihat bisa melumpuhkan yang terlihat.

Dan ini semua terjadi di bulan Ramadhan. Bukan “kasih sayang” yang seharusnya dihormati oleh semua warga dunia.

Bulan yang di pesantren dulu kami pahami sebagai bulan rahmah, bulan maghfirah, bulan menahan diri. Ironisnya, di saat sebagian umat menahan lapar dan dahaga, sebagian manusia lain menekan tombol peluncur rudal.

Sebagai orang Indonesia yang dibesarkan dengan prinsip politik “bebas aktif”, kita tidak mudah menyalahkan siapa pun. Kita juga tidak ingin menjadi hakim dunia. Tapi sebagai orang beriman, kita punya hak untuk berharap hidup damai.

Semoga teknologi secanggih apa pun tidak mematikan nurani.
Semoga kekuatan sebesar apa pun tidak menghapus rasa kemanusiaan.
Semoga para pemimpin dunia ingat bahwa di balik setiap tombol peluncur ada nyawa yang tak bersalah.

Semoga teknologi alutsista hanya untuk kedaulatan negara. Tidak menghentikan proses pendidikam anak cucu. Tidak mengganggu haji dan umrah. Tidak mengancam kaki-kali ajaib di Piala Dunia 2026.

Perang tradisional mengajarkan kita tentang keberanian.
Perang modern mengingatkan kita tentang kerapuhan manusia.

Dan Ramadhan seharusnya mengajarkan kita tentang menahan diri.

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Lebih Dekat Plt Kepala SMAN 21 Makassar, Figur Pendidik Kaya Prestasi

    Mengenal Lebih Dekat Plt Kepala SMAN 21 Makassar, Figur Pendidik Kaya Prestasi

    • 0Komentar

    Drs. A. R. Subandi, M.Si., yang saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPT SMAN 21 Makassar, terus bergerak aktif mengukir berbagai prestasi gemilang bagi sekolah yang dipimpinnya. Pria kelahiran Ujungpandang ini memiliki rekam jejak panjang dalam dunia keguruan, yang menjadikannya salah satu figur pendidik paling berpengaruh di Sulawesi Selatan. Sepanjang kariernya, sosok yang […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Koordinasi ke DJKI, Perkuat Inventarisasi Lagu Daerah sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

    Kanwil Kemenkum Babel Koordinasi ke DJKI, Perkuat Inventarisasi Lagu Daerah sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung melaksanakan koordinasi dan inventarisasi lagu daerah di wilayah pada Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Rabu (10/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan Manurung, beserta jajaran. Kunjungan koordinasi diterima langsung oleh Direktur Hak Cipta dan Desain Industri, […]

  • Sinyal Panggilan Khidmah: Menag Nasaruddin Umar dan KH Imam Jazuli Bahas Masa Depan NU

    Sinyal Panggilan Khidmah: Menag Nasaruddin Umar dan KH Imam Jazuli Bahas Masa Depan NU

    • 0Komentar

    Pertemuan antara Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar dengan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, berlangsung hangat dan penuh makna di Cirebon, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026). KH Imam Jazuli yang juga merupakan teman seangkatan Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin Yafid, Lc., berdiskusi secara intensif dengan Menteri Agama selama […]

  • Fakultas Sastra UMI Lepas 281 Wisudawan, Dekan Nurjannah Abna: Jaga Integritas dan Nama Baik Almamater

    Fakultas Sastra UMI Lepas 281 Wisudawan, Dekan Nurjannah Abna: Jaga Integritas dan Nama Baik Almamater

    • 0Komentar

    Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali melahirkan ratusan alumni baru pada Wisuda Periode II Tahun 2026. Sebanyak 281 wisudawan dari enam program studi resmi menyelesaikan pendidikan dan kini bersiap memasuki dunia kerja serta mengambil peran pengabdian di tengah masyarakat. Dari jumlah tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi menjadi penyumbang lulusan terbanyak […]

  • Kanwil Kemenkum Sumsel Pertahankan Nol Tunggakan Perkara KI

    Kanwil Kemenkum Sumsel Pertahankan Nol Tunggakan Perkara KI

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan mengikuti kegiatan Koordinasi Penanganan Perkara Kekayaan Intelektual di Wilayah yang diselenggarakan secara virtual oleh Direktorat Penegakan Hukum Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Jumat (17/7). Kegiatan diikuti oleh Plh. Kepala Divisi Pelayanan Hukum Bulan Mahardika, Kepala Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Yenni, serta jajaran Analis Kekayaan Intelektual. Koordinasi dibuka langsung oleh […]

  • Hadiri Peresmian Posbankum Sumatera Barat, Kemenkum Sumsel Siap Sukseskan Peresmian Posbankum Nasional

    Hadiri Peresmian Posbankum Sumatera Barat, Kemenkum Sumsel Siap Sukseskan Peresmian Posbankum Nasional

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan (Kemenkum Sumsel) mengikuti kegiatan Peresmian Pos Bantuan Hukum (Posbankum) dan Pembukaan Pelatihan Paralegal Desa/Kelurahan se-Provinsi Sumatera Barat yang diselenggarakan secara virtual melalui Zoom Meeting (30/3). Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Hukum RI, Supratman Andi Agtas, Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Min Usihen, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, […]

expand_less