Chelsea setelah Dipegang Rosenior: Bangkit atau Jalan di Tempat?
- account_circle Jim Geovedi
- calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
- print Cetak

Kritik tajam menghujani Chelsea setelah mereka membuang keunggulan dua gol saat menjamu Leeds United di Stamford Bridge pada Rabu (11/2/2026) dini hari WIB. Hasil imbang 2-2 ini tidak hanya membuat The Blues kehilangan poin penting, tetapi juga memicu perdebatan mengenai sejauh mana perkembangan tim di bawah asuhan pelatih baru, Liam Rosenior. Chelsea melewatkan peluang emas untuk merangkak ke posisi empat besar menggeser Manchester United.
Legenda sepak bola yang kini menjadi pengamat di Sky Sports, Paul Merson, memberikan komentar pedas terkait performa tersebut. Menurutnya, Chelsea masih menunjukkan penyakit lama yang sama seperti saat masih dilatih oleh Enzo Maresca. Merson menilai tim asal London Barat tersebut masih belum mampu menjaga konsistensi permainan selama 90 menit penuh dalam sebuah pertandingan.
Merson mengakui bahwa pada babak pertama, permainan Chelsea sangat memukau, bahkan ia mengibaratkannya seperti tim basket atraksi Harlem Globetrotters. Pergerakan pemain seperti Cole Palmer, Pedro, Santos, hingga Enzo Fernandez terlihat sangat cair dan dinamis. Namun, kelebihan itu mendadak hilang saat tim ditekan, menunjukkan kurangnya sosok pemimpin berpengalaman di lapangan.
Salah satu momen yang paling mengejutkan Merson adalah kegagalan Cole Palmer mencetak gol dari jarak yang sangat dekat, hanya sekitar dua meter dari garis gawang. Merson menyebut kegagalan itu “tidak masuk akal” mengingat kualitas Palmer yang biasanya sangat klinis.
“Kegagalan memanfaatkan peluang dan hilangnya kontrol saat skor menjadi 2-2 adalah bukti bahwa mentalitas tim belum banyak berubah,” ujarnya sinis.
Di sisi lain, Liam Rosenior sebagai nahkoda tim membela anak asuhnya dengan tegas. Ia bersikeras bahwa telah terjadi “perubahan nyata” sejak ia mengambil alih kursi kepelatihan sebulan lalu. Rosenior meminta publik untuk melihat perkembangan tim secara objektif, mengingat mereka harus menjalani jadwal padat dengan 10 pertandingan hanya dalam waktu 30 hari.
Rosenior merasa permainan Chelsea saat melawan Leeds sebenarnya sudah sangat mendominasi. Ia bahkan mengklaim hampir tidak mengingat kapan Leeds memiliki peluang bersih sebelum gol penalti terjadi. Baginya, kegagalan meraih poin penuh lebih disebabkan oleh kesalahan pengambilan keputusan dalam waktu singkat, bukan karena masalah taktik atau struktur permainan yang salah.
Meski begitu, statistik menunjukkan ada celah besar di lini pertahanan Chelsea. Di bawah Rosenior, mereka memang produktif dengan mencetak 24 gol dalam 10 laga, namun mereka baru mencatatkan dua kali clean sheet atau tidak kebobolan. Gaya main yang menghibur ini memang memberikan tontonan menarik, namun sering kali membuat jantung para pendukungnya berdegup kencang karena rapuhnya lini belakang.
Tantangan besar kini menanti Rosenior karena Chelsea akan menghadapi rentetan jadwal pertandingan yang sangat berat di depan mata. Jika Chelsea ingin membuktikan Merson salah dan menembus zona Liga Champions, mereka harus belajar untuk tetap fokus hingga peluit panjang berbunyi. Pertarungan memperebutkan posisi empat besar Premier League pun diprediksi akan semakin panas hingga akhir musim.
- Penulis: Jim Geovedi

