Breaking News
light_mode

BELLIGERENT ATTITUDE: Perilaku Gemar Bertengkar dan Menyerang

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • print Cetak

Oleh: Munawir Kamaluddin

Ada manusia yang merasa dirinya kuat ketika suaranya meninggi, seolah-olah kebenaran hanya lahir dari nada yang keras. Ia merasa benar ketika orang lain tak diberi ruang untuk berbicara, dan merasa menang ketika lawannya terdiam atau tumbang. Namun, tanpa ia sadari, di saat yang sama ia sedang mengalami kekalahan paling sunyi, kalah oleh egonya sendiri, kalah oleh ketidakmampuannya mengendalikan diri.

Lisan yang seharusnya menjadi jembatan kasih perlahan berubah menjadi bilah tajam yang melukai. Pikiran yang seharusnya menjadi alat pencari kebenaran justru menyempit, hanya sibuk membenarkan diri. Hati yang dahulu lapang menerima perbedaan kini menjadi sempit, mudah tersulut, dan penuh prasangka.

Di sinilah kita melihat wajah nyata dari apa yang disebut sebagai belligerent attitude, sikap atau perilaku agresif, konfrontatif, gemar menyerang, haus validasi, dan selalu ingin mendominasi. Ia bukan sekadar emosi sesaat, melainkan krisis karakter yang dalam, sebuah tanda bahwa akhlak mulai tergeser oleh ambisi, dan nilai-nilai kebenaran mulai tenggelam dalam kepentingan diri.

Realitas sosial hari ini memperlihatkan gejala itu dengan begitu jelas. Perdebatan kehilangan adab, kritik berubah menjadi caci maki, dan perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat justru menjelma menjadi sumber permusuhan. Manusia tidak lagi sabar untuk mendengar, tetapi tergesa-gesa untuk membalas. Tidak lagi menimbang dengan jernih, tetapi cepat menuduh tanpa dasar. Tidak lagi berupaya memperbaiki, tetapi sibuk mencari celah untuk menjatuhkan.

Padahal Allah SWT. telah mengingatkan dengan sangat halus namun mengguncang kesadaran:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidaklah seseorang mengucapkan satu kata pun, melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini seakan menjadi cermin yang jujur, bahwa setiap kata bukan hanya didengar manusia, tetapi juga disaksikan langit. Namun, mengapa manusia tetap begitu ringan melukai dengan lisannya? Karena hati telah kehilangan rasa takut kepada Allah, dan lisan telah terlepas dari kendali iman.

Rasulullah SAW.bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Sesungguhnya manusia yang paling dibenci oleh Allah adalah yang paling keras dalam perdebatan.” (HR. Bukhari)

Betapa dalam pesan ini. Bukan sekadar perdebatan yang dicela, tetapi sikap keras, memaksakan, dan menjadikan perdebatan sebagai panggung ego, bukan sebagai jalan mencari kebenaran. Dalam banyak kasus, perdebatan tidak lagi menjadi ruang bertukar pikiran, melainkan arena pertarungan untuk menang, walaupun harus mengorbankan kejujuran.

Lebih jauh lagi, sikap agresif ini sering lahir dari luka batin yang tidak disadari. Ego yang tak terkontrol, kebutuhan untuk diakui, dan kegelisahan jiwa yang tak pernah selesai, semuanya berkelindan membentuk karakter yang mudah menyerang. Seakan-akan dengan menjatuhkan orang lain, ia bisa meninggikan dirinya. Padahal sejatinya, ia sedang menutupi rapuhnya batin yang ia sembunyikan.

Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan dengan penuh kebijaksanaan:
لَا تُجَادِلِ الْجَاهِلَ فَتُغْلَبُهُ وَلَا تُجَادِلِ الْعَالِمَ فَتَغْلِبُهُ
“Jangan berdebat dengan orang bodoh, karena ia akan mengalahkanmu, dan jangan pula dengan orang berilmu, karena engkau tidak akan mampu mengalahkannya.”

Ungkapan ini bukan sekadar sindiran, tetapi sebuah peta jalan, bahwa tidak semua perdebatan layak diikuti. Ada perdebatan yang hanya akan menguras energi, mengeraskan hati, dan menjauhkan manusia dari kebenaran itu sendiri.

Hasan al-Basri bahkan berkata:
مَا تَنَاظَرَ قَوْمٌ إِلَّا سُلِبُوا الْعَمَلَ
“Tidaklah suatu kaum gemar berdebat, kecuali mereka akan kehilangan amal (kebaikan).”

Seolah-olah setiap kata yang diucapkan dalam perdebatan yang sia-sia, mengikis pahala yang seharusnya menjadi bekal kehidupan.

Di era digital, keadaan ini menjadi semakin kompleks. Ruang-ruang publik terbuka lebar, tetapi tidak semua diisi dengan kebijaksanaan. Aib dipublikasikan tanpa rasa malu, opini disebarkan tanpa ilmu, dan konflik dipertontonkan seakan-akan itu adalah prestasi. Manusia lupa bahwa menjaga kehormatan diri jauh lebih mulia daripada memenangkan perdebatan.

Rasulullah SAW.telah mengingatkan:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Dan dalam hadits yang sering luput dari perhatian:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
“Seluruh umatku akan diampuni, kecuali mereka yang terang-terangan membuka aibnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di sinilah kita mulai memahami bahwa masalahnya bukan sekadar perilaku, tetapi lebih dalam, ia berakar pada jiwa yang mulai kehilangan arah. Ketika hati tidak lagi disinari oleh dzikir, ketika akal tidak lagi dituntun oleh wahyu, dan ketika nafsu diberi ruang untuk memimpin, maka lahirlah manusia yang keras dalam kata dan kasar dalam sikap.

Allah SWT.memberikan jalan keluar yang begitu indah:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)

Ini bukan sekadar ajaran moral, tetapi strategi peradaban. Bahwa keburukan tidak dilawan dengan keburukan, dan kekerasan tidak disembuhkan dengan kekerasan. Dunia tidak akan menjadi damai jika setiap orang merasa harus menang.

Ibn Qayyim al-Jawziyya mengingatkan:
الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ
“Agama itu seluruhnya adalah akhlak. Siapa yang lebih baik akhlaknya darimu, maka ia lebih baik agamanya.”

Maka, perubahan sejati tidak dimulai dari orang lain, tetapi dari diri sendiri. Dari keberanian untuk mengakui kesalahan, dari kerendahan hati untuk menahan ego, dan dari ketulusan untuk kembali kepada kebenaran.

Allah SWT. berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا • وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Di titik ini, kita mulai melihat bahwa pemulihan bukan sekadar perubahan sikap, tetapi perjalanan spiritual. Ia adalah upaya membersihkan hati, menenangkan jiwa, dan menata kembali cara kita memandang orang lain. Dari sinilah lahir kelembutan, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Rasulullah SAW. bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا بَلَى، قَالَ: إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
“Maukah aku beritahu kalian sesuatu yang lebih utama dari puasa, shalat, dan sedekah? Yaitu memperbaiki hubungan di antara manusia.” (HR. Abu Dawud)

Akhirnya, kita sampai pada sebuah kesadaran yang sederhana namun dalam, dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berdebat, tetapi membutuhkan lebih banyak jiwa yang mampu menenangkan. Tidak membutuhkan lebih banyak suara keras, tetapi lebih banyak hati yang lembut. Tidak membutuhkan lebih banyak kemenangan dalam argumen, tetapi lebih banyak kemenangan dalam memaafkan.

Jika hari ini kita masih mudah marah, masih gemar menyerang, dan masih sulit menahan lisan, maka barangkali yang perlu kita perbaiki bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Karena kedamaian dunia selalu dimulai dari kedamaian hati. Dan dari hati yang damai itulah lahir kata-kata yang menyejukkan, sikap yang menguatkan, dan kehidupan yang penuh rahmat.

Di situlah Islam menampakkan wajahnya yang paling indah, sebagai rahmat bagi semesta, bukan ancaman bagi sesama.Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏MK

SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir.Munawir Kamaluddin

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kreativitas Santri Meledak di FLS3N 2026, Shohwatul Is’ad Raih Banyak Juara

    Kreativitas Santri Meledak di FLS3N 2026, Shohwatul Is’ad Raih Banyak Juara

    • 0Komentar

    Prestasi di bidang seni dan sastra sering kali dipandang sebagai pelengkap dalam dunia pendidikan berbasis pesantren. Namun, anggapan tersebut dipatahkan oleh delegasi SMA IT Shohwatul Is’ad yang tampil gemilang dalam ajang FLS3N 2026 tingkat kabupaten. Kehadiran para santri dalam kompetisi ini bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai representasi generasi yang tumbuh seimbang yakni kuat dalam […]

  • UNM dan Media: Menjaga Nalar Publik, Mengabarkan Prestasi

    UNM dan Media: Menjaga Nalar Publik, Mengabarkan Prestasi

    • 0Komentar

    Senja Ramadhan menjadi ruang refleksi bagi Universitas Negeri Makassar (UNM) ketika pimpinan kampus dan para pengelola media di Makassar serta Sulawesi Selatan duduk bersama dalam sebuah forum diskusi yang diakhiri dengan buka puasa bersama.  Pertemuan itu bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan upaya memperkuat jembatan komunikasi antara perguruan tinggi dan media sebagai dua institusi penting dalam […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Perkuat Peran Posbankum Kelurahan di Pangkal Pinang, Wujudkan Akses Keadilan hingga Tingkat Masyarakat

    Kanwil Kemenkum Babel Perkuat Peran Posbankum Kelurahan di Pangkal Pinang, Wujudkan Akses Keadilan hingga Tingkat Masyarakat

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung terus memperkuat keberadaan Pos Bantuan Hukum (Posbankum) sebagai sarana akses keadilan yang mudah, dekat, dan terjangkau bagi masyarakat melalui kegiatan Pembinaan Posbankum Kelurahan Se-Kota Pangkal Pinang Tahun 2026 di Aula Kantor Pemerintah Kota Pangkal Pinang, Selasa (1/9/2026). Kegiatan diikuti 100 peserta yang terdiri atas lurah serta perwakilan paralegal […]

  • Kemenkum Sumsel Inventarisasi Pelanggaran Kekayaan Intelektual di Polres Musi Rawas

    Kemenkum Sumsel Inventarisasi Pelanggaran Kekayaan Intelektual di Polres Musi Rawas

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan melakukan koordinasi ke Kepolisian Resor (Polres) Musi Rawas terkait inventarisasi serta pemetaan potensi pelanggaran Kekayaan Intelektual (KI) di Kabupaten Musi Rawas (23/9). Delegasi Kanwil Kemenkum Sumsel dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Bulan Mahardika Subekti. Kedatangan tim diterima oleh Kanit Pidsus Polres Musi Rawas, Ipda […]

  • APPMBGI Gandeng Perum Bulog Perkuat Rantai Pasok Program MBG

    APPMBGI Gandeng Perum Bulog Perkuat Rantai Pasok Program MBG

    • 0Komentar

    Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) terus memperkuat langkah strategis dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satunya melalui kolaborasi dengan Perum Bulog. Kerja sama ini difokuskan pada penguatan rantai pasok pangan guna memastikan ketersediaan bahan baku yang stabil, berkualitas, dan berkelanjutan bagi operasional dapur MBG di berbagai daerah. […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Laksanakan Evaluasi Menuju Zona Integritas Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) oleh Tim Inspektorat Wilayah V

    Kanwil Kemenkum Babel Laksanakan Evaluasi Menuju Zona Integritas Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) oleh Tim Inspektorat Wilayah V

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung (Kanwil Kemenkum Babel) melaksanakan kegiatan Desk Evaluasi Pembangunan Zona Integritas Satuan Kerja Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yang bertujuan untuk memastikan kesiapan dan keberlanjutan implementasi pembangunan Zona Integritas di lingkungan Kanwil Kemenkum Babel, Rabu (22/04/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh tim evaluasi dari Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum […]

expand_less