Breaking News
light_mode

Makna “Seribu Bulan” dalam Lailatul Qadar

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
  • print Cetak

Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM)

Ungkapan “khairun min alfi syahr” (lebih baik dari seribu bulan) dalam Surah Al-Qadr ayat 3 merupakan salah satu pernyataan Al-Qur’an yang memiliki kedalaman makna teologis, spiritual, sekaligus filosofis. Secara tekstual ayat tersebut berbunyi: “Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.” Pernyataan ini tidak hanya menunjukkan keutamaan malam tersebut, tetapi juga membuka ruang refleksi filosofis mengenai konsep waktu, kualitas ibadah, dan dimensi spiritual kehidupan manusia.¹
Secara matematis, seribu bulan setara dengan sekitar delapan puluh tiga tahun empat bulan, yang hampir mendekati rata-rata usia hidup manusia. Dalam perspektif ini, para ulama memahami bahwa ibadah pada satu malam Lailatul Qadar memiliki nilai yang melampaui seluruh umur manusia jika diisi dengan amal kebaikan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa amal pada malam itu lebih baik daripada amal yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar di dalamnya.² Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan bahwa kualitas ibadah dapat melampaui dimensi kuantitas waktu.
Dari sudut pandang filosofis, konsep “seribu bulan” menunjukkan bahwa waktu dalam perspektif spiritual Islam tidak semata-mata bersifat kronologis (chronos), tetapi juga memiliki dimensi kualitas atau keberkahan (kairos). Waktu yang diberkahi oleh kehadiran rahmat Ilahi dapat melampaui nilai waktu yang panjang secara matematis. Dalam konteks ini, Lailatul Qadar merupakan contoh bagaimana satu momen spiritual dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada rentang waktu yang panjang namun kosong dari makna.
Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan bahwa penyebutan angka seribu dalam Al-Qur’an tidak selalu dimaksudkan sebagai bilangan matematis yang literal, tetapi sebagai simbol hiperbolik yang menunjukkan kelipatan keutamaan yang sangat besar.³ Dengan kata lain, ungkapan seribu bulan menggambarkan keagungan yang melampaui batas perhitungan manusia. Angka tersebut menjadi metafora bagi kemuliaan yang tidak terukur.
Dalam tradisi tasawuf, makna “seribu bulan” sering dipahami sebagai simbol perjalanan spiritual manusia. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa satu saat kedekatan hati dengan Allah dapat lebih berharga daripada ibadah yang panjang namun tanpa kehadiran hati.⁴ Perspektif ini menekankan bahwa nilai suatu amal tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu, tetapi oleh kedalaman kesadaran spiritual yang menyertainya.
Lebih jauh lagi, para sufi memandang bahwa Lailatul Qadar merupakan simbol pertemuan antara dimensi waktu manusia dan dimensi keabadian Ilahi. Dalam malam tersebut, manusia diberi kesempatan untuk merasakan pancaran rahmat Tuhan yang melampaui keterbatasan duniawi. Oleh karena itu, satu malam dapat memiliki nilai yang setara dengan perjalanan spiritual yang sangat panjang.
Dari sudut pandang antropologis religius, konsep “seribu bulan” juga mengandung pesan pedagogis. Al-Qur’an seolah mengajarkan bahwa kehidupan manusia yang terbatas dapat memperoleh nilai yang sangat besar apabila diisi dengan momen-momen kesadaran spiritual yang intens. Dengan demikian, ajaran Lailatul Qadar memberikan optimisme teologis bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk meraih pahala yang luar biasa melalui kesungguhan ibadah.
Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa rahasia keutamaan seribu bulan juga berkaitan dengan kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Dibandingkan umat terdahulu yang memiliki umur lebih panjang, umat Nabi Muhammad diberi kompensasi berupa malam yang nilainya setara dengan ibadah sepanjang usia panjang tersebut.⁵ Dengan demikian, Lailatul Qadar menjadi bentuk rahmat Ilahi yang memberikan peluang spiritual yang besar kepada umat Islam.
Secara eksistensial, konsep ini juga mengandung pesan bahwa kehidupan manusia tidak diukur dari panjangnya usia, tetapi dari kedalaman makna yang dihasilkan oleh amal dan ibadahnya. Dalam filsafat kehidupan Islam, satu tindakan yang dilakukan dengan kesadaran ilahiah dapat mengubah kualitas seluruh perjalanan hidup seseorang.
Dalam perspektif metafisik, “seribu bulan” juga dapat dipahami sebagai simbol pertemuan antara dimensi temporal dan dimensi transendental. Waktu manusia bersifat terbatas, sedangkan rahmat Tuhan bersifat tak terbatas. Ketika keduanya bertemu dalam momentum Lailatul Qadar, maka satu malam dapat memiliki nilai yang melampaui ukuran waktu duniawi.
Dengan demikian, ungkapan “lebih baik daripada seribu bulan” tidak hanya menjelaskan keutamaan ibadah pada malam Lailatul Qadar, tetapi juga mengandung pelajaran filosofis tentang hakikat waktu, nilai spiritual amal, serta kedalaman relasi manusia dengan Tuhan. Al-Qur’an melalui ayat ini mengajarkan bahwa satu momen spiritual yang penuh kesadaran dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada rentang waktu yang panjang namun kosong dari makna.
Catatan Kaki
Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Qadr: 3.
Ismail ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), jilid 8, hlm. 441.
Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib (Beirut: Dar Ihya al-Turath al-Arabi), jilid 32, hlm. 28.
Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), jilid 1, hlm. 203.
Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), hlm. 191.

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Be On Yourself (Jadilah Dirimu Sendiri)

    Be On Yourself (Jadilah Dirimu Sendiri)

    • 0Komentar

    Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali) Di tengah hiruk pikuk resolusi dan ekspektasi kerap kali kita ingin sukses dengan menciplak potret orang lain. Ada istilah social mirroring, yaitu menciptakan pesona kamuflase menaiki tangga karir. Tujuannya agar kita mendapat status  sosial, validasi manusia alias pencitraan  […]

  • FPPM Satukan Tokoh Perempuan Makassar lewat Talkshow IWD 2026

    FPPM Satukan Tokoh Perempuan Makassar lewat Talkshow IWD 2026

    • 0Komentar

    Memperingati International Women’s Day (IWD) 2026, Forum Perempuan Pemimpin Makassar (FPPM) menginisiasi sebuah kolaborasi strategis bersama Konsulat Jenderal Australia Makassar melalui perhelatan talkshow bertajuk “Perempuan Berdaya, Komunitas Bermakna: Sinergi Kepemimpinan dalam Keberagaman” di Gedung IMMIM, Makassar, Kamis (5/3/2026). Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi istimewa dengan kehadiran tokoh-tokoh perempuan berpengaruh dari berbagai latar belakang organisasi. […]

  • BPJS Ketenagakerjaan Gelar Sosialisasi bagi Badan Usaha di Kabupaten Gowa

    BPJS Ketenagakerjaan Gelar Sosialisasi bagi Badan Usaha di Kabupaten Gowa

    • 0Komentar

    BPJS Ketenagakerjaan Cabang Makassar menggelar kegiatan sosialisasi program jaminan sosial ketenagakerjaan bagi badan usaha di Kabupaten Gowa. Kegiatan tersebut diikuti oleh sejumlah pelaku usaha dan perwakilan perusahaan sebagai upaya meningkatkan pemahaman terkait pentingnya perlindungan jaminan sosial bagi para pekerja. Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Makassar, I Nyoman Hary Sujana, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Dalami Fenomena Distribusi II dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

    Kanwil Kemenkum Babel Dalami Fenomena Distribusi II dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung (Kanwil Kemenkum Babel) mengikuti Forum Pendalaman Materi Perancang Peraturan Perundang-undangan Episode ke-16 dengan tema “Fenomena Distribusi II dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia” yang diselenggarakan secara virtual melalui Zoom Meeting, Jumat (9/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan Manurung, bersama Kepala […]

  • Polimarim AMI Menafsir Ulang IKU: Dari Mengejar Angka Menuju Membangun Dampak

    Polimarim AMI Menafsir Ulang IKU: Dari Mengejar Angka Menuju Membangun Dampak

    • 0Komentar

    Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Tahunan Politeknik Maritim AMI Makassar, Selasa (21/7), 2026 lebih semarak dan Istimewa sebab dihadiri oleh 5(lima) Guru Besar yang ahli dan berpengalaman dalam bidang manajemen perguruan tinggi serta sebagai pelaku kebijakan Indikator Kinerja Utama (IKU). Kelima guru besar tersebut juga merupakan staf ahli di Politeknik Maritim AMI Makassar. Rapat ini sudah […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Perkuat Evaluasi Pelayanan Publik Melalui FGD Berbasis Data dan Partisipasi

    Kanwil Kemenkum Babel Perkuat Evaluasi Pelayanan Publik Melalui FGD Berbasis Data dan Partisipasi

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis, 30 April 2026, di Balai Pengayoman. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk mengumpulkan data dan masukan yang akan menjadi dasar evaluasi layanan yang lebih komprehensif. FGD tersebut dihadiri oleh Kepala […]

expand_less