Breaking News
light_mode

Sabar dan Syukur: Pilar Kesehatan Jiwa yang Transenden-11

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • print Cetak


Oleh: Ahmad Razak
Dosen Fakultas Psikologi UNM

Dalam lanskap kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, manusia di seluruh dunia tengah mencari satu hal yang sama: kesejahteraan psikologis (psychological well-being). Namun, Islam telah lama menawarkan fondasi kesehatan jiwa yang tak hanya menenangkan, tetapi juga mentransendensikan manusia melampaui kondisi duniawi, yaitu: sabar dan syukur. Keduanya bukan hanya semata sikap moral, melainkan kualitas jiwa yang membentuk ketahanan mental, kedewasaan emosi, dan kedalaman makna hidup.

Sabar secara spiritual bukanlah semata menahan diri, tetapi kemampuan jiwa untuk tetap teguh dalam kebaikan, bertahan dalam ujian, dan menunda kepuasan demi tujuan yang lebih tinggi. Ia adalah stabilitas batin saat gelombang kehidupan mengguncang. Adapun syukur adalah kesadaran mendalam akan nikmat yang hadir, diiringi pengakuan hati, ucapan lisan, dan penggunaan nikmat itu dalam kebaikan. Jadi dengan demikian, syukur menjadikan jiwa lapang dan sabar menjadikannya kokoh. Keduanya adalah arsitektur batin yang menopang kesehatan jiwa manusia beriman.

Allah Swt menegaskan hukum spiritual syukur: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini menunjukkan bahwa syukur memperluas keberkahan dan rasa cukup. Sebaliknya, tentang sabar Allah berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Jika syukur menghadirkan penambahan nikmat, maka sabar menghadirkan kelimpahan pahala. Dua ayat ini meneguhkan bahwa dalam setiap keadaan hidup, orang beriman selalu berada dalam ruang keuntungan spiritual.

Saat seseorang diberi nikmat, ia bersyukur dengan mengakui sumber nikmat itu dari Allah Swt, menggunakan nikmat secara benar, dan tidak terjebak dalam kesombongan. Namun di saat yang sama, ia juga bersabar menahan diri dari berlebihan, menjaga nikmat dari penyalahgunaan, dan tetap rendah hati. Seorang yang diberi kekayaan, misalnya, bersyukur dengan sedekah dan berbagi; ia juga bersabar dengan tidak hidup dalam kemewahan berlebihan. Seorang yang diberi ilmu, bersyukur dengan mengajarkan; ia bersabar dengan tidak mencari pujian. Dalam nikmat pun sabar dibutuhkan, agar nikmat tidak berubah menjadi ujian kesombongan.

Sebaliknya, ketika musibah datang, sabar tampak sebagai keteguhan menerima takdir tanpa putus asa, tetap berikhtiar tanpa keluh kesah yang merusak iman. Namun bahkan dalam musibah, syukur tetap mungkin: bersyukur atas sisa nikmat yang masih ada, atas hikmah yang tersembunyi, atau atas pahala yang dijanjikan. Seorang yang sakit, misalnya, bersabar menanggung rasa dan keterbatasan; ia bersyukur karena masih diberi waktu hidup, keluarga yang mendampingi, atau kesempatan mendekat kepada Allah. Di sinilah sabar dan syukur bertemu dalam kematangan spiritual. Sebab bagaimanapun juga luka tidak meniadakan nikmat, dan nikmat tidak meniadakan ujian.

Sabar dan syukur ibarat dua sisi mata uang spiritual. Keduanya tidak terpisah, karena kehidupan sendiri berputar antara nikmat dan ujian. Sabar memiliki keutamaannya sendiri: ia melahirkan ketahanan, pengendalian diri, dan pahala besar. Syukur pun memiliki kemuliaannya: ia menumbuhkan kebahagiaan batin, memperluas keberkahan, dan mengundang penambahan nikmat. Jika seseorang memiliki keduanya sekaligus, maka dalam setiap keadaan ia beruntung: saat nikmat ia mendapat pahala syukur, saat ujian ia mendapat pahala sabar. Hidupnya menjadi ladang pahala yang terus berbuah dalam segala musim.

Sabar dan syukur merupakan dua kekuatan utama kesehatan mental. Sabar berfungsi sebagai distress tolerance: kemampuan menahan tekanan tanpa runtuh yang dalam istilah lain dikenal sebagai resiliensi. Ia mencegah impulsivitas, memperkuat regulasi emosi, dan memberi ruang refleksi sebelum reaksi. Sementara syukur di sisi lain, meningkatkan emosi positif, kepuasan hidup, dan makna eksistensial. Banyak penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa praktik syukur menurunkan depresi dan kecemasan, serta meningkatkan kesejahteraan subjektif. Dengan demikian, apa yang kini dicari dunia sebagai psychological well-being, sesungguhnya telah lama tertanam dalam praktik spiritual sabar dan syukur.

Ibadah puasa adalah madrasah sabar dan syukur yang paling konkret. Puasa melatih sabar secara fisik: menahan lapar, haus, dan dorongan biologis; juga sabar emosional: menahan marah, keluh, dan reaksi negatif. Dalam waktu yang sama, puasa menumbuhkan syukur: saat berbuka, air yang sederhana terasa nikmat luar biasa; makanan biasa menjadi karunia yang disadari. Orang yang berpuasa merasakan bahwa yang selama ini dianggap biasa ternyata adalah nikmat besar. Puasa menggeser persepsi: dari kelimpahan yang tak terasa menjadi kesadaran nikmat yang mendalam. Di situlah syukur lahir dari pengalaman sabar.

Jadi ternyata sabar dan syukur bukan sebatas ajaran moral, melainkan pilar kesehatan jiwa yang transenden dimana menyehatkan manusia sekaligus mendekatkannya kepada Tuhan. Dunia boleh mencari kesejahteraan psikologis melalui terapi dan teknik, namun jiwa orang-orang yang beriman menemukannya dalam ibadah dan kesadaran ilahi. Sabar membuat manusia kuat menghadapi dunia. Sementara syukur membuatnya damai menikmati dunia. Dan ketika keduanya hidup bersama dalam hati, manusia tidak lagi sekadar sehat secara psikologis tetapi ia menjadi utuh secara spiritual.

Wallahu a lam bissawab

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kakanwil Kemenkum Babel Ditunjuk Gubernur Babel Sebagai Tim Evaluasi Kinerja dan Uji Kompetensi JPT Masa Jabatan 5 Tahun

    Kakanwil Kemenkum Babel Ditunjuk Gubernur Babel Sebagai Tim Evaluasi Kinerja dan Uji Kompetensi JPT Masa Jabatan 5 Tahun

    • 0Komentar

    Dalam rangka memperkuat implementasi sistem merit dalam manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN), Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan Manurung, telah ditunjuk oleh Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk bergabung dalam tim Evaluasi Kinerja dan Uji Kompetensi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Masa Jabatan 5 Tahun. Kegiatan evaluasi ini diadakan pada Senin, 4 […]

  • Kakanwil Kemenkum Babel Tekankan Kekompakan dan Integritas dalam Apel Pagi

    Kakanwil Kemenkum Babel Tekankan Kekompakan dan Integritas dalam Apel Pagi

    • 0Komentar

    Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan Manurung, memimpin apel pagi jajaran Kanwil Kemenkum Babel yang dilaksanakan di halaman Kantor Wilayah, Senin (31/8/2026). Apel pagi diikuti oleh Kepala Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum (P3H) Rahmat Fery Pontoh, Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kaswo, Kepala Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Adi Riyanto, Kepala Bidang Pelayanan […]

  • BPJS Ketenagakerjaan Parepare Perkuat Sinergi Bersama Perusahaan Strategis Melalui Customer Gathering

    BPJS Ketenagakerjaan Parepare Perkuat Sinergi Bersama Perusahaan Strategis Melalui Customer Gathering

    • 0Komentar

    BPJS Ketenagakerjaan Cabang Parepare kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat hubungan kemitraan dengan perusahaan strategis melalui kegiatan Customer Gathering yang dilaksanakan di Pare Beach Hotel, Parepare, pada Kamis, 7 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran karyawan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Parepare dan perwakilan dari 48 perusahaan strategis yang menjadi mitra aktif dalam mendukung perlindungan jaminan sosial […]

  • Kembali ke Titik Nol 

    Kembali ke Titik Nol 

    • 0Komentar

    Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM)  Idul Fitri datang seperti fajar yang tidak sekadar menyingsingkan cahaya, tetapi juga membuka lembaran batin yang lama tertutup. Ia bukan hanya penanda berakhirnya puasa, melainkan panggilan halus untuk kembali, bukan ke masa lalu, tetapi ke asal mula diri: titik nol. Di sanalah […]

  • Kanwil Kemenkum Babel Ikuti Sosialisasi KUHP Nasional dan KUHAP Baru, Perkuat Pemahaman Penegakan Hukum di Daerah

    Kanwil Kemenkum Babel Ikuti Sosialisasi KUHP Nasional dan KUHAP Baru, Perkuat Pemahaman Penegakan Hukum di Daerah

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung turut mengikuti kegiatan Sosialisasi KUHP Nasional, KUHAP Baru, dan Undang-Undang Penyesuaian Pidana yang diselenggarakan pada Jumat (17/04/2026) secara hybrid melalui Zoom Meeting dan luring di Bali, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dan tokoh penting, di antaranya Wakil Menteri Hukum RI, Edward Omar […]

  • Seni Menjemput Ampunan

    Seni Menjemput Ampunan

    • 0Komentar

    Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM) Dalam kehidupan manusia, dosa sering kali dipahami sebagai noda yang menempel pada perjalanan jiwa. Ia hadir dari kelemahan, kelalaian, dan keterbatasan manusia sebagai makhluk. Namun dalam pandangan spiritual, dosa bukan hanya tentang kesalahan, tetapi juga tentang kesempatan untuk kembali. Di situlah ampunan […]

expand_less