Breaking News
light_mode

Naib Canselor UMK: Eko-Akunta-Nesia Relevan untuk Asia Tenggara

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • print Cetak

Peluncuran buku EKO-AKUNTA-NESIA: Teori, Konsep dan Konteks karya Muhammad Aras Prabowo bersama Meutia, Windu Mulyasari, dan Agus Sholikhan Yulianto mendapat perhatian luas dari kalangan akademisi Indonesia dan Malaysia. Buku yang diterbitkan oleh UNUSIA Press itu dinilai menghadirkan tawaran paradigma baru ekonomi dan akuntansi yang berakar pada keadilan sosial, keberlanjutan ekologis, dan nilai-nilai kerakyatan Nusantara.

Naib Canselor Universiti Malaysia Kelantan, YBRS. PROF. Ir. Ts. Dr. ARHAM BIN ABDULLAH menegaskan bahwa gagasan Ekonesia dan Akuntanesia memiliki relevansi besar bagi kawasan Asia Tenggara. Ia menyebut negara-negara ASEAN menghadapi problem yang serupa: ketimpangan pembangunan, eksploitasi sumber daya, dan dominasi logika pasar yang sering mengabaikan dimensi sosial masyarakat.

“EKO-AKUNTA-NESIA bukan hanya relevan untuk Indonesia, tetapi juga penting bagi masa depan Asia Tenggara. Kawasan ini memerlukan model ekonomi dan akuntansi yang tidak semata mengejar pertumbuhan, melainkan juga menjaga solidaritas sosial, budaya lokal, dan keberlanjutan alam,” tulisnya.

Menurutnya, pendekatan pembangunan berbasis komunitas yang ditawarkan buku tersebut dapat menjadi alternatif penting di tengah krisis global dan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap kapitalisme ekstrem.

Sementara itu, ekonom Indonesia Timur, Dr. Mukhtar A. Adam menilai karya tersebut sebagai bentuk “perlawanan epistemik” terhadap dominasi ekonomi neoliberal. Ia menegaskan, “Ekonesia menawarkan sintesis Nusantara yang merangkul kapital, substantif, dan kerakyatan. Pasar diposisikan sebagai ruang inovasi, negara sebagai pelindung, komunitas sebagai basis solidaritas, dan ekologi sebagai fondasi keberlanjutan.”

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan nasional tidak boleh terus terjebak dalam logika pertumbuhan semata. “Ekonomi Indonesia tidak cukup dibaca dari grafik PDB, tetapi harus memotret solidaritas sosial dan keberlanjutan ekologi,” tegasnya.

Dukungan serupa datang dari Prof. Dr. Tubagus Ismail, SE, MM, Ak, CA, CMA, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menyebut buku ini sebagai “kontribusi pemikiran yang segar, kritis, sekaligus membumi.”

“EKO-AKUNTA-NESIA menghadirkan paradigma alternatif yang berusaha mengintegrasikan ekonomi kapital, ekonomi substantif, dan ekonomi kerakyatan dalam kerangka keadilan sosial serta keberlanjutan ekologis,” tulisnya.

Di sisi lain, apresiasi juga datang dari berbagai akademisi nasional. Prof. Dr. H. Muhammad Adlin Sila, M.A., Ph.D menyebut buku tersebut penting untuk meninjau kembali sistem ekonomi yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan. “Relasi sosial, kontribusi komunitas, dan jejak ekologis seharusnya menjadi napas dalam praktik ekonomi kita,” ujarnya.

Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., C.A., M.Ec., Ph.D menilai buku itu bukan sekadar kajian akademik, melainkan “gugatan filosofis terhadap tirani ilmu pengetahuan yang terlalu Barat.” Ia menambahkan, “Buku ini adalah ajakan menemukan kembali jiwa praktik-praktik yang selama ini terperangkap dalam dogma asing.”

Sementara Dr. Munawar Muchlish, Ak., M.Si., CA., ACPA., ASEAN CPA menyebut EKO-AKUNTA-NESIA sebagai terobosan penting yang menggabungkan dimensi ekonomi, akuntansi, dan nilai-nilai kearifan lokal. “Karya ini bukan hanya bernilai akademik, tetapi juga memberi arah praksis bagi kebijakan publik dan tata kelola ekonomi bangsa,” katanya.

Penulis utama buku, Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak menegaskan bahwa karya tersebut lahir dari kegelisahan akademik terhadap dominasi paradigma ekonomi dan akuntansi yang terlalu positivistik. “Kami ingin menunjukkan bahwa ekonomi dan akuntansi bukan sekadar soal laba dan pertumbuhan, tetapi juga tentang manusia, keadilan sosial, dan keberlanjutan semesta,” ujarnya. 20/05/2026.

Ia berharap EKO-AKUNTA-NESIA dapat menjadi pemantik lahirnya paradigma ekonomi Asia Tenggara yang lebih kontekstual, humanis, dan berakar pada budaya lokal. “Asia Tenggara membutuhkan jalan pembangunan sendiri, bukan sekadar menjadi replika sistem ekonomi global yang sering kali gagal menghadirkan keadilan,” pungkasnya.

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengurus Baru PSMTI Kalsel 2025–2029 Dilantik, Fokus UMKM dan Kebhinekaan

    Pengurus Baru PSMTI Kalsel 2025–2029 Dilantik, Fokus UMKM dan Kebhinekaan

    • 0Komentar

    PSMTI Kalsel resmi melantik jajaran pengurus baru periode 2025–2029 dalam prosesi yang berlangsung khidmat di Banjarmasin, Jumat (17/4/2026) malam.  Ketua Umum PSMTI Pusat Wilianto Tanta, Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin, Wakil Gubernur Hasnuryadi Sulaiman, dan unsur Forkopimda hadir menyaksikan pelantikan tersebut. Ketua PSMTI Kalsel yang baru, Hiandrasyah The, menegaskan kepengurusan ini membawa tanggung jawab besar namun […]

  • Enterpreneurship Dalam Perspektif Islam

    Enterpreneurship Dalam Perspektif Islam

    • 0Komentar

    Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali) Kewirausahaan (entrepreneurship) bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk mencari keuntungan, tetapi juga bagian dari ibadah yang memiliki dimensi moral dan sosial. Islam mendorong umatnya untuk mandiri secara ekonomi, bekerja keras, serta memanfaatkan potensi diri secara optimal—namun tetap dalam koridor nilai-nilai syariah […]

  • Perkuat Perencanaan Anggaran TA 2027, Kanwil Kemenkum Sumsel Ikuti Supervisi

    Perkuat Perencanaan Anggaran TA 2027, Kanwil Kemenkum Sumsel Ikuti Supervisi

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan mengikuti kegiatan Supervisi Usulan Belanja Modal dan Belanja Sewa Tahun Anggaran 2027 bersama Biro Perencanaan dan Organisasi Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum bertempat di Wisma Pengayoman Kementerian Hukum (10/3). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Bagian Program dan Anggaran Biro Perencanaan dan Organisasi Sekretariat Jenderal Kementerian Hukum, Lisca Presylia beserta tim, […]

  • Kemenkum Sumsel Harmonisasi Dua Rancangan Perwali Palembang Terkait Kebijakan Pengurangan Pajak Daerah

    Kemenkum Sumsel Harmonisasi Dua Rancangan Perwali Palembang Terkait Kebijakan Pengurangan Pajak Daerah

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan melaksanakan rapat harmonisasi terhadap dua Rancangan Peraturan Wali Kota Palembang di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan (13/10). Dua rancangan peraturan tersebut meliputi Rancangan Peraturan Wali Kota Palembang tentang Pemberian Pengurangan atas Pokok Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan serta Rancangan Peraturan Wali Kota Palembang tentang Pemberian Pengurangan […]

  • Lailatul Qadar, Perspektif Kekinian

    Lailatul Qadar, Perspektif Kekinian

    • 0Komentar

    Oleh: H. Kaswad SartonoKepala Kanwil Agama Gorontalo Hari-hari terakhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Islam. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan doa dan dzikir semakin khusyuk, dan hati manusia terasa lebih lembut. Pada fase inilah umat Islam menanti satu malam yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam […]

  • Kemenkum Sumsel Supervisi Posbankum di 6 Kelurahan Talang Ubi

    Kemenkum Sumsel Supervisi Posbankum di 6 Kelurahan Talang Ubi

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan (Kemenkum Sumsel) melalui Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum menggelar pembinaan dan supervisi Pos Bantuan Hukum (Posbankum) di enam kelurahan Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI. Koordinator Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkum Sumsel, H. Asnedi bersama tim penyuluh kali ini menyasar para lurah, pengurus Posbankum, dan paralegal. Pembinaan dilakukan di Kelurahan […]

expand_less