Breaking News
light_mode

Puasa dan Kepemimpinan dalam Islam

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • print Cetak


Oleh: DR KH Masrur Makmur La Tanro, Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali.

Puasa dalam Islam bukan sekadar ibadah personal yang bersifat ritual, melainkan proses pembinaan karakter yang berdampak sosial. Ia membentuk manusia yang bertakwa, dan dari ketakwaan itulah lahir kepemimpinan yang adil dan berintegritas. Karena itu, relasi antara puasa dan kepemimpinan dalam Islam sesungguhnya sangat erat: puasa adalah fondasi ruhani bagi lahirnya pemimpin yang amanah.

Hakikat puasa adalah menahan diri (imsak): menahan lapar, dahaga, amarah, dan hawa nafsu. Dalam kepemimpinan, pengendalian diri merupakan kualitas mendasar. Banyak krisis kepemimpinan terjadi bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena lemahnya kontrol diri—ambisi yang tak terkendali, ego yang dominan, atau keputusan yang didorong emosi.

Puasa melatih pemimpin untuk sabar dalam tekanan, tenang dalam konflik, dan bijak dalam mengambil keputusan. Ia membangun kesadaran bahwa kekuasaan bukan alat pelampiasan hasrat, tetapi amanah yang harus dijaga.

Puasa memiliki dimensi batiniah yang kuat. Seseorang bisa saja berpura-pura di hadapan manusia, tetapi tidak di hadapan Allah. Inilah yang melahirkan muraqabah—kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi.

Dalam konteks kepemimpinan, kesadaran ilahiah ini menjadi fondasi integritas. Pemimpin yang memiliki muraqabah tidak akan mudah tergoda korupsi, manipulasi, atau penyalahgunaan wewenang. Ia sadar bahwa pertanggungjawaban tidak berhenti pada laporan publik, tetapi berlanjut di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ adalah teladan kepemimpinan yang dibangun di atas nilai takwa. Kepemimpinan beliau bukan sekadar administratif, tetapi moral dan spiritual.

Puasa menghadirkan pengalaman langsung tentang lapar dan keterbatasan. Dari sini tumbuh empati terhadap kaum dhuafa. Kepemimpinan dalam Islam tidak boleh terlepas dari keberpihakan pada yang lemah.

Keadilan bukan hanya soal hukum, tetapi juga kebijakan yang sensitif terhadap kondisi masyarakat. Pemimpin yang ditempa oleh nilai puasa akan lebih peka terhadap penderitaan rakyat, sehingga keputusan yang diambil tidak sekadar rasional, tetapi juga berperasaan.

Ramadan juga identik dengan zakat, infak, dan sedekah—simbol distribusi keadilan sosial. Nilai ini menjadi pelajaran bahwa kepemimpinan harus berorientasi pada kemaslahatan umum, bukan kepentingan kelompok tertentu.

Puasa membentuk disiplin waktu dan konsistensi ibadah. Sahur, shalat tepat waktu, tilawah, dan qiyamul lail menciptakan pola hidup teratur. Disiplin ini penting dalam manajemen kepemimpinan.

Lebih dari itu, pemimpin dalam Islam adalah teladan (uswah hasanah). Keteladanan tidak lahir dari pidato, tetapi dari praktik nyata. Puasa mengajarkan kesederhanaan, dan kesederhanaan adalah kekuatan moral yang membuat pemimpin dekat dengan rakyat.

Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah, bukan hak istimewa. Amanah mengandung makna tanggung jawab dan akuntabilitas. Puasa menguatkan kesadaran ini karena setiap ibadah dilakukan atas dasar niat yang tulus.

Dalam sejarah Islam, para khalifah dan pemimpin besar dikenal karena kezuhudan dan tanggung jawabnya. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal sangat sederhana dan takut jika ada rakyatnya yang kelaparan. Spirit inilah yang seharusnya lahir dari madrasah puasa.

Di era modern, kepemimpinan menghadapi tantangan kompleks: globalisasi, digitalisasi, polarisasi sosial, hingga krisis kepercayaan publik. Dalam situasi ini, nilai-nilai puasa menjadi semakin relevan.

Pengendalian diri mencegah pemimpin dari keputusan reaktif. Integritas menjaga kepercayaan publik. Empati memperkuat legitimasi moral. Semua itu bersumber dari takwa—tujuan utama puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Puasa dan kepemimpinan dalam Islam tidak dapat dipisahkan. Puasa membentuk karakter, dan karakter menentukan kualitas kepemimpinan. Tanpa pembinaan ruhani, kepemimpinan mudah terjebak pada formalitas dan kekuasaan semata.

Semoga puasa tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi menjadi energi transformasi bagi para pemimpin—baik di tingkat keluarga, lembaga, maupun negara—agar memimpin dengan kejujuran, keadilan, dan kesadaran akan amanah Ilahi. Karena pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa lama seseorang berkuasa, tetapi seberapa besar manfaat dan keadilan yang ditinggalkannya bagi umat.
Wallahu Waliyyul Muttaqien.

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolda Sulsel Lepas Puluhan Personel Brimob ke Operasi Amole 2026 di Papua Tengah

    Kapolda Sulsel Lepas Puluhan Personel Brimob ke Operasi Amole 2026 di Papua Tengah

    • 0Komentar

    Satuan Brimob Polda Sulawesi Selatan (Sat Brimob Polda Sulsel) menggelar apel pemberangkatan personel yang akan melaksanakan tugas Operasi Amole 2026 BKO Polda Papua Tengah. Kegiatan berlangsung di lapangan Mako Batalyon A Pelopor, Jalan Sultan Alauddin No. 75 Makassar, Jumat (10 April 2026). Apel tersebut dipimpin langsung Kapolda Sulsel Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., […]

  • Jamin Fasilitas Hunian Layak, Kemenkum Sumsel Selaraskan Raperbup PSU Ogan Komering Ilir

    Jamin Fasilitas Hunian Layak, Kemenkum Sumsel Selaraskan Raperbup PSU Ogan Komering Ilir

    • 0Komentar

    Upaya menjamin ketersediaan fasilitas permukiman yang layak, tertata, dan berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kini diperkuat melalui kepastian payung hukum yang solid. Komitmen tersebut diwujudkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Sumatera Selatan melalui Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum yang menggelar rapat harmonisasi terhadap Rancangan Peraturan Bupati (Raperbup) OKI tentang Tata […]

  • FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    • 0Komentar

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) memasuki babak baru kepemimpinan untuk masa jabatan 2026–2030. Momentum tersebut ditandai dengan pelantikan dan pengukuhan pengelola Unusia yang digelar di Aula Jakoeb Oetama, Unusia Jakarta, Kamis (20/8). Dalam struktur baru tersebut, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. dipercaya memimpin FEB sebagai Dekan. Ia didampingi Maryam, […]

  • Haji-Umrah Tamu Raja dan Saudi Vision 2030: Melayani Tamu Allah, Membangun Kepemimpinan Dunia Islam

    Haji-Umrah Tamu Raja dan Saudi Vision 2030: Melayani Tamu Allah, Membangun Kepemimpinan Dunia Islam

    • 0Komentar

    Abd Rauf Muhammad AminGuru Besar UIN Alauddin Makassar Program Haji dan Umrah Tamu Penjaga Dua Masjid Suci merupakan salah satu program diplomasi keagamaan paling bergengsi yang diselenggarakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Sejak diluncurkan pada 1997, program yang berada di bawah Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan ini mengundang para ulama, akademisi, imam masjid, tokoh masyarakat, […]

  • Wamenhaj RI Lepas Petugas Haji 2026,  Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental

    Wamenhaj RI Lepas Petugas Haji 2026,  Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental

    • 0Komentar

    Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak, mengingatkan petugas haji agar menyiapkan mental sebelum bertugas di Tanah Suci. Sebab, tugas melayani jemaah tidak mudah karena sebagian besar jemaah berasal dari latar belakang sederhana, termasuk lulusan Sekolah Dasar (SD). Selain itu, mayoritas jemaah juga masuk kelompok rentan lantaran memiliki penyakit resiko tinggi (Risti). […]

  • Dirlantas Polda Sulsel Matangkan Persiapan Zero ODOL 2027

    Dirlantas Polda Sulsel Matangkan Persiapan Zero ODOL 2027

    • 0Komentar

    Dirlantas Polda Sulawesi Selatan AKBP Dr. Pria Budi, S.I.K., mematangkan persiapan menuju penerapan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) pada 2027. Hal itu disampaikan dalam jumpa pers. Pria Budi didampingi Wadirlantas Polda Sulsel AKBP Erwin Syah, S.I.K., M.H., serta Kasubdit Regident Ditlantas Polda Sulsel Kompol Kasman. Zero ODOL merupakan upaya menertibkan kendaraan angkutan barang yang […]

expand_less