Breaking News
light_mode

Perbedaan, Toleransi, dan Literasi Masjid

  • account_circle Maryam Chalisa
  • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
  • print Cetak


Oleh: H. Kaswad Sartono
Kepala Kanwil Agama Prov. Gorontalo

Menjelang awal Ramadhan, ruang digital kita begitu riuh.
WhatsApp penuh dengan perdebatan hisab dan rukyat.
TikTok ramai dengan potongan ceramah dan argumentasi.
Ada yang menyodorkan dalil astronomi, ada yang mengutip pendapat ulama klasik, ada pula yang memilih tidak mau ambil pusing.

Perbedaan ijtihad tentang awal puasa seperti menjadi panggung tahunan yang tak pernah sepi.

Namun sesuatu yang menarik selalu terjadi.

Ketika Ramadhan benar-benar tiba, ketika takbir mulai berkumandang, ketika masjid mulai dipenuhi jamaah Isya dan Tarawih—perdebatan itu seakan menguap. Tentu, tidak hilang secara intelektual, tetapi mencair secara spiritual.

Saya menyaksikan sendiri fenomena itu. Bersama Gubernur Gorontalo Bapak Gusnar Ismail, kami melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah di beberapa tempat. Di Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo suasana khusyuk menyelimuti jamaah yang datang dari beragam latar belakang. Di Masjid Darul Arqam Muhammadiyah, kami kembali merasakan kekhidmatan yang sama, Kemudian di Masjid Al-Ittihad jalan HB Jassin yang mempraktekkan shalat Tarwih ala Aswaja Nahdlatul Ulama juga begitu khusyuk di sana.

Bahkan dalam momentum kenegaraan seperti ground breaking pengembangan runway di Bandar Udara Djalaluddin, hingga di Holantalo Ballroom usai Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur, sampai saat menyambut kedatangan Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwaghandi di malam ke-2, ke-7 dan ke-10 shalat Tarawih tetap ditegakkan berjamaah dengan penuh kekhusyukan dan toleransi (tasamuh).

Dan di setiap tempat itu, praktiknya variatif:
Ada yang 20 rakaat dengan tiap 2 rakaat salam.
Ada yang 8 rakaat dengan tiap 4 rakaat salam.
Ada pula yang 8 rakaat dengan tiap 2 rekaat salam.

Yang paling menyentuh hati saya adalah ketika kami shalat di masjid kecil Darul Arqam binaan Muhammadiyah Kab. Gorontalo, di mana tata cara Tarawihnya 8 rakaat tiap 4 rakaat salam. Namun imam dan hampir seluruh jamaah—sekitar 90persen—disampaikan Nahdliyyin (warga NU). Tidak ada bisik-bisik protes. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada kegelisahan identitas. Namun semuanya khusyuk bermakmum sama imam dengan lapang dada dan ikhlas.

Di situ saya merasakan sesuatu yang jauh lebih penting dan substansj daripada sekadar perbedaan teknis fiqh. Saya menyaksikan kualitas toleransi umat yang begitu tinggi. Mudah-mudahan best practice ini bisa menjadi pelecut Indek Kerukunan Umat Beragama di Provinsi “serambi madinah” Gorontalo ini.

Ikhtilaf tetap berada di ruang akademik:
Bersatu dalam Islam, toleransi dalam ikhtilaf.
Ukhuwah tetap berdiri kokoh di ruang sosial.

Perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk menjaga jarak, tetapi justru menjadi bukti bahwa persatuan tidak menuntut harus seragam.

Fenomena ini bagi saya bukan kebetulan. Ini adalah hasil panjang pendidikan para ulama, keteladanan tokoh agama, kebijakan pemerintah yang meneduhkan, serta kematangan sosial umat Islam Indonesia. Bahkan saudara-saudara kita dari agama lain pun turut menyaksikan suasana Ramadhan yang damai dengan penuh penghormatan.

Ironisnya, ketajaman argumentasi yang begitu bergelora di media digital, sering kali tidak terbukti dalam kehidupan nyata. Di lapangan, umat jauh lebih cair daripada di layar gawai. Di masjid, orang lebih memilih berdiri dalam satu shaf daripada berdiri dalam satu opini.

Dari realitas keberagamaan ini, saya kemudian menatap masa depan tentang pentingnya literasi masjid.

Saat dialog Safari Subuh, sebuah usulan yang disampaikan oleh Jamaah Subuh Masjid al-Muhtadin Kecamatan Limboto Kab. Gorontalo kepada saya terasa sangat relevan: masjid perlu mengoptimalkan fungsi literasinya. Jika ruang digital menjadi arena perdebatan cepat, maka masjid harus menjadi ruang pengajian dan pendalaman yang jernih. Jika media sosial sering menyederhanakan perbedaan menjadi hitam-putih, maka masjid harus mengajarkan keluasan budaya membaca, berpikir, dan diskusi.

Generasi milenial kita tidak cukup hanya diberi tahu bahwa “ini boleh” dan “itu tidak boleh”. Mereka perlu memahami mengapa ulama berbeda. Mereka perlu tahu metodologi istinbath hukum. Mereka perlu diajak berpikir, bukan sekadar diarahkan. Karena mereka adalah imam di masa deoan.

Literasi masjid bukan sekadar menambah jadwal ceramah. Ia adalah membangun budaya dialog yang santun, memperkenalkan sejarah perbedaan mazhab, mengajarkan etika tabayyun, serta menanamkan bahwa kekuatan umat bukan pada seragamnya praktik, tetapi pada kukuhnya persaudaraan.

Ramadhan tahun ini kembali mengajarkan kepada kita bahwa toleransi intra-umat bukan teori. Ia hidup. Ia nyata. Ia cinta kemanusiaan. Ia terjadi di shaf-shaf Tarawih kita.

Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga memberi teladan dalam menerima perbedaan. Mengikuti imam yang berbeda praktiknya bukan kehilangan prinsip, tetapi justru memuliakan persaudaraan.

Dan mungkin inilah wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya. Wajah Islam yang rahmatan lil alamin.
Berbeda dalam ijtihad, tetapi satu dalam sujud;
Beragam dalam praktik, tetapi damai dalam hati.
Bersatu dalam aqidah, toleransi dalam furuiyah. والله اعلم

  • Penulis: Maryam Chalisa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Narkotika dan Mekanisme Pemberian Bantuan Hukum secara cuma-cuma di Kelurahan Sinar Bulan

    Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Narkotika dan Mekanisme Pemberian Bantuan Hukum secara cuma-cuma di Kelurahan Sinar Bulan

    • 0Komentar

    Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum Legal Justice Babel bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Bangka Belitung melaksanakan kegiatan penyuluhan hukum terkait bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Kelurahan Sinar Bulan, Kecamatan Bukit Intan, Jumat (5/06/26). Kegiatan tersebut dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Teguh Afrianto selaku Lurah Sinar Bulan. Dalam sambutannya, Teguh menyampaikan apresiasi […]

  • Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Kemenkum Sumsel Teguhkan Semangat Pengabdian

    Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Kemenkum Sumsel Teguhkan Semangat Pengabdian

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan melaksanakan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8). Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Selatan, Maju Amintas Siburian, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Dalam amanatnya, Maju mengajak seluruh jajaran menjadikan kemerdekaan sebagai momentum untuk terus mengisi kemerdekaan melalui kerja nyata, integritas, pengabdian, dan karya yang […]

  • Tim penyusun panduan penelitian LP2S UMI Tahun 2026

    Tim penyusun panduan penelitian LP2S UMI Tahun 2026

    • 0Komentar

    Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LP2S) Universitas Muslim Indonesia menggelar pertemuan tim penyusun Panduan Penelitian Tahun 2026 sebagai langkah strategis dalam memperkuat tata kelola riset dan meningkatkan kualitas penelitian dosen di lingkungan Universitas Muslim Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Aula LP2S UMI Menara UMI lt 3 dibuka langsung Ketua LP2S UMI Prof Dr […]

  • Negara Hadir! Kanwil Kemenkum Babel Perjuangkan Akses Keadilan Warga dalam Sengketa Reklamasi Tambang

    Negara Hadir! Kanwil Kemenkum Babel Perjuangkan Akses Keadilan Warga dalam Sengketa Reklamasi Tambang

    • 0Komentar

    Komitmen negara dalam menjamin akses keadilan bagi masyarakat kembali ditegaskan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung melalui layanan konsultasi hukum bagi warga, Selasa (14/04/26). Langkah ini menjadi bagian nyata implementasi agenda prioritas nasional dalam memperkuat supremasi hukum serta perlindungan hak asasi manusia sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden. Melalui jajaran Divisi Peraturan Perundang […]

  • Peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Menag Tekankan Nilai Persatuan

    Peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Menag Tekankan Nilai Persatuan

    • 0Komentar

    Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an harus menjadi sumber inspirasi bagi seluruh elemen bangsa dalam merawat persatuan dan mewujudkan kehidupan yang damai. Hal tersebut disampaikan Menag dalam peringatan Nuzulul Qur’an Tingkat Kenegaraan di Istana Negara yang bertema “Mewujudkan Al-Qur’an sebagai Rahmat Alam Semesta”. Giat ini dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden […]

  • Pastikan Kualitas dan Ketepatan Waktu, Kakanwil Kemenkum Babel Tinjau Progres Renovasi Gedung Kantor

    Pastikan Kualitas dan Ketepatan Waktu, Kakanwil Kemenkum Babel Tinjau Progres Renovasi Gedung Kantor

    • 0Komentar

    Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, Johan Manurung, melaksanakan monitoring dan pengawasan langsung terhadap progres renovasi gedung utama Kanwil Kemenkum Babel, Senin (12/10/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Administrasi Hukum Umum, Muhammad Bangbang, serta Tim Teknis Lapangan, Rizal. Peninjauan dilakukan untuk memastikan pelaksanaan renovasi berjalan sesuai dengan perencanaan, jadwal, dan standar teknis […]

expand_less