Konferensi ASEAN Soroti Pendidikan Agama Sejak Dini, Kurikulum Cinta Dinilai Relevan Bangun Perdamaian
- account_circle Maryam Chalisa
- calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
- print Cetak

Penguatan pemahaman agama yang benar, moderat dan berorientasi pada perdamaian menjadi salah satu perhatian dalam konferensi keagamaan tingkat ASEAN yang berlangsung di Kamboja, 4–6 Oktober 2026.
Forum bertema “Khairun Ummah” tersebut mempertemukan delegasi dan tokoh keagamaan dari sejumlah negara ASEAN untuk membahas berbagai isu strategis kehidupan umat Islam, termasuk moderasi, toleransi, perdamaian dan penguatan kerja sama keagamaan di kawasan.
Indonesia diwakili Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, bersama Tenaga Ahli Menteri Agama, Bunyamin Yapid. Keduanya hadir mewakili Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang mendapat undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi.
Dalam forum tersebut, delegasi Indonesia membawa pengalaman mengenai penerapan moderasi beragama. Muchlis menekankan bahwa pemahaman agama yang benar dan seimbang semestinya melahirkan akhlak yang baik serta tercermin dalam sikap adil, santun dan bijaksana ketika menghadapi perbedaan.
Pendidikan Sejak Dini Jadi Fondasi
Penguatan nilai-nilai agama sejak usia dini dinilai penting agar generasi muda tidak sekadar memahami agama pada aspek formal, tetapi juga mampu menghadirkan nilai kasih sayang, toleransi dan penghormatan terhadap sesama dalam kehidupan.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan Kurikulum Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama.
Menteri Agama Nasaruddin Umar sebelumnya menjelaskan Kurikulum Cinta sebagai fondasi kehidupan bersama di tengah keragaman. Konsep tersebut menempatkan kasih sayang, empati dan penghargaan terhadap perbedaan sebagai bagian penting dalam pendidikan, baik di lembaga formal, lingkungan keluarga maupun pesantren.
Kurikulum berbasis cinta juga telah diperkuat dalam dunia pendidikan madrasah. Pendekatan ini diarahkan pada penguatan karakter, nilai kemanusiaan, moderasi beragama serta penciptaan lingkungan belajar yang aman, inklusif dan menyenangkan.
Indonesia Dorong Wasathiyah
Delegasi Indonesia juga menekankan pentingnya wasathiyah atau sikap moderat sebagai praktik nyata dalam kehidupan umat.
Indonesia membagikan pengalaman penerapan moderasi beragama melalui empat indikator utama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, serta sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal.
Bunyamin Yapid mengatakan konferensi ASEAN tersebut menjadi ruang penting bagi negara-negara peserta untuk bertukar pengalaman dan gagasan dalam menghadapi dinamika kehidupan keagamaan.
Menurutnya, forum diharapkan melahirkan gagasan dan rekomendasi yang semakin memperkuat hubungan antarnegara ASEAN sekaligus membangun kehidupan umat yang damai, moderat, toleran dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Konferensi yang berlangsung selama tiga hari tersebut sekaligus mempertegas bahwa pendidikan agama, moderasi dan penanaman nilai kasih sayang memiliki posisi strategis dalam membangun generasi yang mampu hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman. (*)
- Penulis: Maryam Chalisa

