Menimbang Untung Rugi Atap Genting dalam Wacana Gentingisasi
- account_circle Jim Geovedi
- calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
- print Cetak

Gentingisasi dan Perubahan Tren Atap di Indonesia
Penggunaan genting menjadi perbincangan seiring pemerintah mendorong program gentingisasi sebagai bagian dari upaya penataan lingkungan dan pembenahan wajah kota, khususnya untuk mendukung sektor pariwisata.
Namun, di tengah wacana tersebut, realitas di lapangan menunjukkan tren berbeda. Material atap berbasis tanah liat yang dahulu mendominasi rumah-rumah di Indonesia kini semakin jarang digunakan, tergeser oleh atap metal, seng, dan baja ringan yang dianggap lebih praktis dan ekonomis.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting, sejauh mana untung dan rugi penggunaan genting jika diterapkan secara luas?
Gentingisasi dan Perubahan Tren Atap di Indonesia
Program gentingisasi diposisikan sebagai strategi untuk menciptakan keseragaman visual lingkungan, sekaligus memperkuat identitas kawasan tertentu agar lebih menarik secara estetika.
Genting tanah liat dipilih karena dianggap merepresentasikan karakter lokal dan selaras dengan iklim tropis. Pada sisi lain, tren pembangunan perumahan dan gedung baru justru menunjukkan penurunan penggunaan genting.
Pertimbangan efisiensi biaya, kecepatan pemasangan, serta bobot material membuat banyak pengembang beralih ke atap metal dan seng. Material tersebut dinilai lebih ringan, mudah diaplikasikan, dan mampu menekan biaya konstruksi secara keseluruhan.
Perubahan selera arsitektur ke arah modern dan minimalis turut mempercepat pergeseran ini. Desain kontemporer lebih cocok dipadukan dengan atap non-genting, sehingga genting tradisional semakin jarang dijumpai, terutama di kawasan perkotaan.
Meski demikian, di wilayah tertentu dan bangunan bernuansa tradisional, genting masih bertahan sebagai pilihan utama.
Tinjauan Ahli terhadap Kebijakan Gentingisasi
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM, Ashar Saputra, menilai kebijakan gentingisasi perlu dikaji secara komprehensif sebelum diterapkan secara luas. Menurutnya, pemilihan material atap tidak bisa dilepaskan dari tiga aspek utama, yakni teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan.
Ia menekankan bahwa setiap material atap memiliki konsekuensi berbeda. Karena itu, kebijakan pembangunan sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu jenis material tanpa mempertimbangkan konteks wilayah dan kebutuhan masyarakat.
“Saya tidak langsung mengomentari program gentingisasi itu sendiri, tetapi melihatnya dari tiga pendekatan tersebut. Setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda,” kata Ashar, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (11/2/2026).
Dari sisi teknis, genting dan seng memiliki karakteristik yang cukup kontras. Seng berbentuk lembaran sehingga dapat diaplikasikan pada atap dengan kemiringan rendah, bahkan sekitar 5%, tanpa meningkatkan risiko kebocoran. Sebaliknya, genting membutuhkan kemiringan atap tertentu agar dapat berfungsi optimal.
Secara umum, genting baru aman digunakan pada atap dengan kemiringan lebih dari 30%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak semua desain bangunan cocok menggunakan genting, terutama pada rumah dengan konsep atap landai.
Bobot material juga menjadi faktor krusial. Genting tanah liat, keramik, maupun beton memiliki massa yang relatif besar. Konsekuensinya, struktur atap dan bangunan harus dirancang lebih kuat. Jika tidak diperhitungkan dengan baik, beban besar ini dapat meningkatkan risiko kerusakan, terutama saat terjadi gempa.
Pada sisi lain, seng yang ringan memiliki tantangan tersendiri. Bobot yang kecil membuatnya lebih rentan terlepas atau rusak ketika diterpa angin kencang. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada material atap yang sepenuhnya bebas risiko, karena setiap pilihan selalu diiringi kelebihan dan kekurangan.
Kemampuan merespons panas juga menjadi pembeda penting. Genting yang berat cenderung lebih efektif meredam panas, sehingga suhu dalam ruangan terasa lebih sejuk. Namun, kondisi ini tidak selalu ideal.
Di daerah pegunungan atau wilayah bersuhu dingin, bangunan justru membutuhkan material yang mampu menyerap panas matahari agar interior tetap hangat. Dalam konteks tersebut, seng bisa menjadi alternatif yang lebih sesuai.
“Di daerah pegunungan yang dingin, justru dibutuhkan rumah yang bisa memanen panas matahari agar bagian dalamnya hangat. Di situ, penggunaan seng bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai,” ujar Ashar.
Selain teknis, pertimbangan sosial budaya memegang peranan penting dalam pemilihan material atap. Indonesia memiliki keragaman suku, budaya, dan kepercayaan yang memengaruhi bentuk serta material bangunan rumah.
“Itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi soal keyakinan sosial budaya. Hal seperti ini tidak bisa diabaikan atau diseragamkan,” terang Ashar.
Di beberapa daerah, masih terdapat keyakinan bahwa rumah orang yang masih hidup tidak boleh menggunakan material berbahan tanah sebagai atap.
Kepercayaan semacam ini membuat masyarakat setempat memilih material selain genting tanah liat, bukan karena alasan teknis atau estetika, melainkan karena nilai budaya yang dipegang turun-temurun.
Desain rumah adat juga menjadi faktor penentu. Sejumlah bangunan tradisional di berbagai daerah memiliki bentuk atap khas yang secara historis dirancang untuk material lentur seperti ijuk atau sirap.
Jika dipaksakan menggunakan genting yang berat dan kaku, hal tersebut berpotensi menghilangkan karakter asli arsitektur tradisional.
Aspek keberlanjutan tidak kalah penting dalam diskursus gentingisasi. Dalam ilmu bahan bangunan, pemilihan material seharusnya mempertimbangkan kebutuhan energi sejak proses produksi hingga tahap penggunaan.
Setiap material memiliki jejak energi dan emisi yang berbeda. Karena itu, penggunaan genting tidak serta-merta lebih hemat energi dibandingkan seng, maupun sebaliknya. Semua perlu dihitung secara menyeluruh agar kebijakan yang diambil benar-benar mendukung pembangunan berkelanjutan.
Ashar juga menyoroti perlunya kejelasan tujuan kebijakan gentingisasi. Apakah yang ingin dicapai adalah jenis material tertentu, bentuk atap, atau sekadar tampilan estetika.
Saat ini, tersedia berbagai material berbasis metal yang dirancang menyerupai genting, dengan tampilan rapi dan karakter visual yang mendekati atap tradisional.
Dengan kondisi geografis, budaya, dan kemampuan ekonomi masyarakat yang beragam, kebijakan material bangunan dinilai lebih tepat jika diterapkan secara fleksibel. Pendekatan seragam di seluruh wilayah justru berisiko mengabaikan prinsip keberagaman yang menjadi karakter Indonesia.
“Harus dihitung berapa energi yang diperlukan dan emisi yang dihasilkan untuk membuat suatu material. Belum tentu penggunaan genting selalu lebih hemat energi dibandingkan seng, atau sebaliknya,” ujarnya.
Perbandingan Kelebihan dan Kekurangan Genting dan Seng
Melansir dari laporan Construction and Civil Engineering Magazine, berikut ulasannya:
1. Kelebihan dan kekurangan atap genting tanah liat
Genting tanah liat dibuat dari material alami yang dibentuk lalu dibakar. Jenis atap ini banyak digunakan pada rumah tradisional dan bangunan bergaya klasik.
Dari sisi keunggulan, genting memiliki umur pakai yang sangat panjang, bahkan dapat mencapai puluhan hingga lebih dari seratus tahun jika diproduksi dan dirawat dengan baik.
Pilihan estetika yang beragam, mulai dari warna, glasir, hingga bentuk, memungkinkan penyesuaian dengan berbagai gaya arsitektur. Selain itu, genting memiliki ketahanan api yang baik serta tidak mudah rusak akibat serangga atau pembusukan.
Namun, di balik keunggulan tersebut, genting memiliki sejumlah keterbatasan. Bobotnya yang berat menuntut struktur penyangga yang kuat.
Biaya material dan tenaga kerja umumnya lebih tinggi dibandingkan alternatif modern. Selain itu, permukaan genting dapat mengalami pemudaran warna, keausan, serta pertumbuhan lumut dan ganggang, terutama di iklim lembap.
2. Kelebihan dan kekurangan atap logam atau seng
Atap logam mencakup berbagai material seperti baja berlapis, aluminium, seng, hingga logam premium seperti tembaga. Jenis ini banyak diaplikasikan pada bangunan modern dan komersial.
Keunggulan utama atap logam terletak pada bobotnya yang ringan, sehingga memberikan beban lebih kecil pada struktur bangunan. Umur pakainya relatif panjang, berkisar puluhan tahun tergantung jenis logam dan lapisan pelindungnya.
Material ini juga dikenal tangguh menghadapi cuaca ekstrem dan memiliki ketahanan angin yang baik. Dari sisi lingkungan, logam memiliki potensi daur ulang yang tinggi, sehingga jejak ekologisnya dapat ditekan jika menggunakan material daur ulang.
Pada sisi lain, biaya awal pemasangan atap logam bisa cukup tinggi, terutama untuk jenis premium atau lapisan khusus.
Tanpa peredam yang memadai, suara hujan deras dapat menimbulkan kebisingan. Risiko korosi juga perlu diperhatikan, khususnya jika lapisan pelindung rusak atau bangunan berada di wilayah pesisir.
Selain itu, sifat pemuaian dan penyusutan akibat perubahan suhu dapat memicu pergerakan material yang berpotensi menimbulkan kebocoran jika detail sambungan tidak dirancang dengan baik.
Menimbang untung dan rugi penggunaan genting menunjukkan bahwa tidak ada satu material atap yang paling benar untuk semua kondisi. Program gentingisasi perlu dipahami sebagai wacana yang harus disesuaikan dengan aspek teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan di tiap wilayah.
- Penulis: Jim Geovedi

