Sinyal Panggilan Khidmah: Menag Nasaruddin Umar dan KH Imam Jazuli Bahas Masa Depan NU
- account_circle Maryam Chalisa
- calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
- print Cetak

Pertemuan antara Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar dengan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, berlangsung hangat dan penuh makna di Cirebon, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026).
KH Imam Jazuli yang juga merupakan teman seangkatan Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin Yafid, Lc., berdiskusi secara intensif dengan Menteri Agama selama sekitar tiga jam, usai Salat Zuhur hingga menjelang Asar.
Meski Menteri Agama hadir didampingi sejumlah pejabat Kementerian Agama, di antaranya Kepala Kantor Wilayah Kemenag DKI Jakarta dan Jawa Barat, Direktur Pesantren, serta beberapa kepala kantor kementerian agama, sebagian besar waktu pertemuan diisi dengan dialog empat mata yang membahas berbagai isu strategis terkait masa depan Nahdlatul Ulama (NU).
Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah dinamika menjelang Muktamar NU ke-35. Dalam diskusi itu mengemuka adanya dorongan dari berbagai kalangan, baik unsur struktural maupun kultural NU, agar Prof. Nasaruddin Umar mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan organisasi.
Aspirasi tersebut dipandang sebagai panggilan khidmah untuk menjawab kebutuhan akan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen NU serta membawa organisasi semakin maju.
Selain membahas kepemimpinan, keduanya juga mendiskusikan berbagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola organisasi. Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah pentingnya merangkul seluruh potensi sumber daya manusia NU tanpa membedakan kelompok maupun faksi, sehingga semangat persatuan sebagai sesama Nahdliyin dapat menjadi fondasi utama dalam membangun organisasi.
Pembenahan sistem kepengurusan juga menjadi agenda penting yang dibahas. Kepengurusan NU ke depan dinilai perlu disusun berdasarkan kompetensi, profesionalisme, dan kesiapan berkhidmah kepada organisasi, bukan atas dasar faktor keturunan, asal daerah, popularitas, maupun kedekatan dalam kontestasi organisasi.
Dengan tata kelola yang profesional, NU diharapkan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang menjadi jati dirinya.
Dalam pertemuan tersebut juga dirumuskan sejumlah agenda prioritas yang dinilai perlu menjadi fokus perjuangan NU ke depan. Bidang pendidikan ditempatkan sebagai salah satu prioritas melalui penguatan pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pembangunan nasional.
Di sektor kesehatan, perhatian diarahkan pada perluasan akses layanan kesehatan bagi warga Nahdliyin, terutama melalui pengembangan klinik dan rumah sakit yang berada di bawah naungan NU.
Sementara dalam bidang dakwah, pembahasan menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, tawasut, tasamuh, dan tawazun dalam praktik kehidupan sehari-hari sehingga tidak berhenti sebagai slogan semata.
Pemberdayaan ekonomi warga NU juga menjadi salah satu fokus utama. Mengingat mayoritas warga Nahdliyin berasal dari kalangan menengah ke bawah, penguatan sektor ekonomi dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Berbagai agenda tersebut dinilai membutuhkan dukungan yang kuat, baik dari aspek pembiayaan, regulasi, maupun dukungan politik. Karena itu, hubungan yang harmonis dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk partai politik yang memiliki kedekatan ideologis dengan Ahlussunnah wal Jamaah serta pemerintah, dipandang penting untuk mewujudkan berbagai program strategis NU.
Menutup pertemuan, keduanya bertukar cenderamata sebagai simbol persahabatan dan penghormatan. Menteri Agama menyerahkan 10 buku terbitan terbaru Kementerian Agama, sementara KH Imam Jazuli menghadiahkan sebuah keris pusaka Cirebon bernama Pandawa Cinarita.
Keris berluk lima tersebut melambangkan keseimbangan, keteguhan moral, kewibawaan pemimpin, serta lima sifat utama yang terinspirasi dari karakter Pandawa, yakni kejujuran, kekuatan, ketegasan, dan kelembutan yang saling melengkapi dalam menjalankan pengabdian kepada umat.
- Penulis: Maryam Chalisa

